OnePlus tampaknya sedang berada di titik paling rapuh dalam sejarahnya. Laporan terbaru dari Android Headlines menggambarkan kondisi internal perusahaan yang nyaris kolaps, dengan sejumlah karyawan menyebut bisnis OnePlus “dikupas habis” dan kehilangan arah strategis. Berdasarkan wawancara dengan karyawan lama dan baru, OnePlus menghadapi kombinasi masalah serius. Penurunan pengiriman perangkat, penutupan kantor, kerja sama yang berhenti, hingga pembatalan produk. Ini bukan sekadar perlambatan bisnis, melainkan gejala klasik merek yang kehilangan relevansi di pasar yang semakin kompetitif. Dari sisi penjualan, angka OnePlus terus merosot. Pada 2024, pengiriman smartphone turun lebih dari 20 persen menjadi sekitar 13 sampai 14 juta unit, dari sekitar 17 juta unit pada 2023. Ironisnya, perusahaan induknya, Oppo, justru mencatat pertumbuhan 2,8 persen, mempertegas posisi OnePlus sebagai “adik techie” yang kini tertinggal. India, salah satu pasar utama OnePlus, menjadi titik lemah paling m...

