Lonjakan permintaan memori akibat ekspansi pusat data AI kini menekan industri PC global. Eksekutif HP Inc. mengakui situasi ini menciptakan tantangan serius, meski mereka menyebut gangguan rantai pasok serupa pernah terjadi sebelumnya.
Dalam earnings call terbaru, CFO Karen Parkhill mengungkapkan harga RAM untuk PC hampir dua kali lipat dalam beberapa bulan terakhir. Dampaknya, porsi memori dalam bill of materials (BOM) melonjak dari 15 persen menjadi 18 persen, dan kini mendekati 35 persen. Ia memperkirakan tekanan harga akan semakin terasa pada paruh kedua tahun fiskal 2026.
Secara kinerja, HP masih mencatat hasil positif. Pendapatan kuartal pertama naik 11 persen menjadi 10,3 miliar dolar AS, dengan pengiriman PC meningkat 14 persen secara tahunan dan penjualan komersial naik 11 persen. Namun, Parkhill memperingatkan potensi penurunan tajam dua digit pada sisa tahun ini karena harga sistem yang lebih tinggi dapat menekan permintaan.
Presiden divisi Personal Systems, Ketan Patel, menyatakan perusahaan akan melindungi margin melalui strategi internal yang disebut “playbook”. Pendekatan ini mencakup diversifikasi silikon dan opsi konfigurasi lebih fleksibel, termasuk menawarkan varian dengan kapasitas memori lebih rendah. Artinya, konsumen mungkin akan melihat harga lebih tinggi atau spesifikasi yang lebih konservatif.
Krisis memori berbasis AI juga berdampak luas. Komponen seperti GPU, SSD, hingga modul DRAM menjadi lebih mahal. Perakitan PC kustom semakin sulit dijangkau, sementara perangkat terjangkau seperti single-board computer ikut terdampak. Pasar sekunder bahkan dibanjiri modul DRAM palsu akibat spekulasi harga.
Meski HP berupaya menekan dampak kenaikan biaya melalui efisiensi rantai pasok, realitas pasar menunjukkan konsumen perlu bersiap menghadapi era PC yang lebih mahal dan konfigurasi yang semakin selektif hingga pasokan memori kembali stabil.


