Ledakan industri AI kini semakin memakan pasar PC konsumen dari sisi yang sudah sangat kritis yakni memori. Di tengah krisis pasokan DRAM global, produsen memori asal Tiongkok, CXMT, diam-diam mulai masuk ke produk brand besar seperti Corsair.
Temuan modul DDR5 Corsair Vengeance yang menggunakan chip DRAM CXMT menjadi sinyal bahwa dominasi Samsung, SK hynix, dan Micron mulai retak.
Masalah utamanya sederhana. Raksasa memori global kini terlalu sibuk mengejar margin besar dari pasar AI server, HBM, dan LPDDR5X. Akibatnya, pasokan DRAM “biasa” untuk PC desktop dan gaming mulai tersisih. Vendor seperti Corsair akhirnya dipaksa mencari alternatif baru demi menjaga stok dan harga tetap masuk akal.

Yang menarik, CXMT ternyata bukan lagi pemain kelas eksperimen. Perusahaan ini sudah mampu memproduksi DDR5 hingga 8000 MT/s dengan kapasitas 16Gb dan 24Gb. Modul Corsair yang ditemukan bahkan bukan produk murah abal-abal, melainkan seri gaming Vengeance DDR5-6000 lengkap dengan dukungan AMD EXPO dan Intel XMP.
Situasi ini menunjukkan perubahan besar di industri memori global. Selama bertahun-tahun, pasar DRAM praktis dikuasai trio Samsung, SK hynix, dan Micron. Namun ketika AI membuat ketiga perusahaan itu lebih fokus ke server dan hyperscaler, ruang kosong di pasar konsumen mulai diisi vendor Tiongkok yang agresif memperbesar kapasitas produksi seperti CXMT dan YMTC.
CXMT dan YMTC sendiri kabarnya tengah menjalankan ekspansi besar-besaran untuk menggandakan output wafer mereka. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan pengguna PC gaming justru lebih sering memakai memori “Made in China” tanpa sadar, bahkan di balik logo brand besar Amerika atau Taiwan.

