Firma riset Counterpoint Research memperingatkan lonjakan tajam harga memori yang berpotensi mengganggu industri broadband global. Dalam laporan terbarunya, Counterpoint menilai inflasi harga memori untuk perangkat konsumen seperti router ISP, residential gateway, dan set-top box.
Parahnya, harga-harga perangkat tersebut meningkat jauh lebih agresif dibandingkan kategori perangkat lain, seperti smartphone, laptop dan desktop PC. Bahkan mendekati kenaikan tujuh kali lipat dalam beberapa kuartal terakhir.
Masalah utama bukan pada kompleksitas perangkat, melainkan perubahan struktur biaya. Memori yang sebelumnya hanya menyumbang porsi kecil dalam bill of materials (BOM) kini meningkat hingga sekitar 20 persen pada router kelas rendah hingga menengah. Ketika satu komponen menjadi faktor dominan biaya, strategi operator seperti pembelian massal dan tender jangka panjang menjadi semakin sulit.

Counterpoint menilai siklus saat ini didorong oleh keterbatasan pasokan dan alokasi produksi. Produsen memori lebih memilih segmen margin tinggi, terutama server AI dari perusahaan seperti Nvidia dan hyperscaler global. Hal ini mengurangi kapasitas untuk perangkat telekomunikasi yang menggunakan memori generasi lama dengan siklus validasi panjang.
Selain itu, perangkat broadband semakin membutuhkan kapasitas komputasi dan memori lebih besar seiring peningkatan fitur seperti Wi-Fi generasi terbaru dan edge computing. Kategori router dinilai paling terdampak karena OEM CPE memiliki daya tawar lebih lemah dibanding produsen elektronik besar, sehingga lebih rentan terhadap volatilitas harga dan pasokan.
Bagi konsumen, dampaknya tidak langsung terlihat pada tarif bulanan. Tekanan biaya lebih mungkin muncul dalam berkurangnya promosi seperti instalasi gratis, bundling set-top box, atau upgrade perangkat rutin. Sementara itu, operator menghadapi risiko hambatan rollout, terutama untuk ekspansi fiber dan fixed wireless yang bergantung pada ketersediaan perangkat pelanggan.
Counterpoint memperkirakan tekanan harga memori akan berlanjut hingga setidaknya pertengahan 2026. Artinya, operator dan vendor harus menyesuaikan strategi pengadaan serta perencanaan jaringan untuk menjaga pertumbuhan broadband tetap stabil di tengah ketidakpastian rantai pasok.

