Industri laptop bisnis sedang mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Jika dulu perusahaan hanya mencari perangkat yang “cukup bisa dipakai”, kini standar berubah menjadi efisiensi, keamanan, dan daya tahan jangka panjang. Tekanan untuk bekerja hybrid, meningkatnya ancaman siber, serta kebutuhan multitasking membuat laptop bisnis harus lebih dari sekadar alat kerja. Ia harus menjadi fondasi produktivitas. Di sisi lain, tidak semua perusahaan siap mengalokasikan budget untuk perangkat flagship. Di sinilah segmen laptop bisnis menengah menjadi menarik. Pasalnya, laptop bisnis kelas menengah menawarkan keseimbangan antara harga, fitur, dan performa. Namun, kompromi tentunya selalu ada dibanding seri flagship, dan di sinilah evaluasi kritis menjadi penting. Sebagai contoh, Asus mencoba mengisi celah segmen laptop bisnis menengah lewat Asus ExpertBook B3 B3404CVA . Laptop bisnis ini ditujukan untuk perusahaan yang membutuhkan perangkat kerja solid dengan fitur enterprise, tetapi tetap r...
Alphabet, perusahaan induk Google, mengalami salah satu hari terburuk dalam sejarah perdagangannya setelah laporan keuangan kuartal ketiga mengecewakan investor. Saham perusahaan tersebut anjlok lebih dari 12% pada Kamis, menghapus sekitar US$500 miliar dari kapitalisasi pasarnya. Penurunan ini menjadi salah satu kehilangan nilai pasar harian terbesar bagi perusahaan publik di Amerika Serikat, hanya berada di bawah kejatuhan Nvidia sebesar US$593 miliar setelah kemunculan DeepSeek dari China tahun lalu. Kekhawatiran investor berpusat pada dua persoalan: pertumbuhan bisnis iklan Google yang mulai melambat dan pengeluaran infrastruktur AI yang terus membengkak. Alphabet mencatat pendapatan US$127,6 miliar pada kuartal ketiga, lebih rendah dari ekspektasi analis sebesar US$128,2 miliar. Pendapatan iklan mencapai US$82 miliar, tetapi masih tertinggal US$1,4 miliar dari proyeksi pasar. Tekanan juga terlihat pada profitabilitas. Laba per saham yang telah disesuaikan tercatat US$2,67, di bawa...
