Pasar kartu grafis diskrit atau add-in board (AIB) menunjukkan paradoks baru. Di satu sisi, dominasi Nvidia semakin kuat. Namun di sisi lain, total pengiriman GPU justru menurun di tengah kenaikan harga komponen dan keterbatasan pasokan.
Laporan terbaru dari Jon Peddie Research untuk kuartal keempat 2025 menunjukkan Nvidia kini menguasai sekitar 94 persen pangsa pasar GPU diskrit. Angka ini meningkat sekitar 1,6 persen dibanding kuartal sebelumnya dan melonjak sekitar 10 poin secara tahunan.
Sebaliknya, AMD kehilangan sekitar 1,6 persen pangsa pasar sehingga tersisa sekitar lima persen. Sementara Intel bertahan di sekitar satu persen tanpa perubahan signifikan.
Meski dominasi Nvidia semakin besar, total pengiriman AIB justru turun. JPR mencatat pengiriman GPU diskrit global mencapai sekitar 11,48 juta unit pada kuartal tersebut, turun 4,4 persen menjadi sekitar 11,5 juta unit. Angka ini juga berada di bawah rata-rata pengiriman selama satu dekade terakhir.
Secara jangka panjang, JPR memproyeksikan pasar AIB akan mengalami kontraksi dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) minus 5,9 persen antara 2024 hingga 2028. Namun demikian, basis terpasang kartu grafis diskrit diperkirakan tetap besar, dengan sekitar 172 juta unit di seluruh dunia.
Tekanan terbesar saat ini datang dari kenaikan harga memori DRAM serta gangguan rantai pasok komponen. Sejak akhir 2025, harga GPU mulai meningkat tajam, sementara sepanjang 2026 pasar menghadapi kombinasi kelangkaan stok, tarif perdagangan, dan praktik spekulasi harga oleh reseller.
Situasi ini membuat pasar GPU terjepit dari dua arah: produsen mengirim lebih sedikit unit, sementara konsumen harus membayar lebih mahal untuk kartu grafis baru. Meski pasar CPU desktop relatif lebih stabil dengan sekitar 21 juta unit pengiriman, kenaikan harga memori tetap menjadi faktor yang menekan biaya keseluruhan sistem PC.


