Langsung ke konten utama

Apa Itu BotXCoin, Cryptocurrency Baru Indonesia

Pasar cryptocurrency dunia sedang ramai-ramainya. Amat banyak sekali muncul investor-investor baru, baik yang baru ingin mencoba-coba, sampai investor kelas kakap ataupun kelas paus (whale), terjun ke pasar mata uang berbasis blockchain tersebut.

Sejumlah developer pun berlomba-lomba menghadirkan cryptocurrency mereka untuk berbagai kebutuhan, khususnya dalam transaksi di dunia digital. Dan tentunya, harapannya mereka bisa menarik minat para investor untuk bergabung dan hodl (hold) cryptocurrency yang bersangkutan.


Tak ingin ketinggalan pula developer dari Indonesia. Terbaru, BotX Technology, sebuah perusahaan start-up asal Indonesia merilis BotXcoin, sebuah mata uang kripto berbasis Ethereum. BotXcoin ini nantinya akan bisa digunakan untuk bertransaksi secara virtual dalam jaringan internet dengan teknologi blockchain.

Ya, untuk transaksi BotXcoin menggunakan jaringan teknologi blockchain Ethereum (ERC20) yang memungkinkan transparansi dan memiliki fitur keamanan terbaik saat ini.


Di balik BotXcoin, terdapat tim developer yang berasal dari Indonesia, Singapura, Vietnam dan negara lain. Pengembangan mata uang kripto yang baru diperkenalkan resmi pada Minggu, 4 Juli 2021 ini sendiri sebenenarnya sudah dilakukan sejak 3 tahun lalu.

Menariknya, dalam kurun waktu tiga tahun, BotXcoin sudah masuk dalam ranking 250 teratas di dunia dan menargetkan untuk punya 100.000 trader di tahun 2022 mendatang.

Adapun secara detail, project botXcoin merupakan copy trading platform yang menggunakan jaringan teknologi blockchain terbaik, yakni Ethereum (ERC20) sehingga memungkinkan transparansi dan keamanan dalam hal transaksi. Proyek BotXcoin memiliki tujuan untuk memanfaatkan robot perdagangan (aplikasi BOTX) dan membangun pertukaran perdagangan multi cryptocurrency (BOTXPRO).

Menurut Indra Kesuma, CEO & Co-Founder BotX Technology yang kerap dikenal dengan nama Indra Kenz, mereka menargetkan popularitas BotXcoin bisa mendunia.

Salah satu langkah pembuktiannya adalah saat ini BotXcoin sudah terdaftar di Coinmarketcap, situs referensi harga koin dan asset kripto terbesar di dunia. Dan untuk masuk ke dalam daftar Coinmarketcap ini tidaklah mudah.

Tak hanya itu, di Indonesia, cryptocurrency karya anak bangsa ini menduduki rangking 1 uang crypto di Indonesia. 


Baca juga:


Dalam tiga tahun perjalanannya, BotXcoin telah mengalami kenaikan hingga 4.000% dan menjadi bukti bahwa BotXcoin telah berhasil menjadi crypto anak bangsa yang potensial.

Saat ini, BotXcoin juga sudah terdaftar di beberapa exchange, dan segera akan terdaftar di exchange yang ada di Indonesia. Bahkan, botXcoin ditargetkan terdaftar di exchange Indonesia yang sudah diakui dan terdaftar di OJK dan Bappebti.

BotXCoin menargetkan penggunanya adalah minimal sudah memiliki akun exchange dan berusia 18 tahun keatas, meski tak menutup kemungkinan untuk pengguna baru dunia kripto untuk memulai bersama BotXcoin. Untuk saat ini, BotXcoin telah hadir di exchange P2PB2B, UniSwap, SushiSwap, Latoken, dan Vindax.


Lebih lanjut, roadmap BotXcoin adalah sebagai berikut:

2021: launching BotXcoin Copy Trading Platform
2022: membawa lebih dari 100.000 trader ke Platform BotXcoin
2023: meluncurkan platform BotXcoin ke Main Net
2024: launching BotXcoin Exchanger

Menarik bukan guys? Yuk, kita nyerok BotXcoin, mumpung harganya masih murah. Sebagai gambaran, saat artikel ini dibuat, harga BotXcoin (BOTX) di Coinmarketcap adalah 0.277 USD atau sekitar Rp4.012. Murah kan?

Postingan Populer

Download Windows 10 ISO versi Lite Alias Ringan

Anda kesal karena laptop atau PC desktop Anda lemot padahal punya spek yang tidak jelek? Jangan dulu membuang laptop atau upgrade komponen PC desktop tersebut. Siapa tau yang membuatnya berat adalah sistem operasi Windows 10-nya yang kegemukan. Selain format dan install ulang, ada cara lain yang lebih efektif dalam membuat komputer kita bekerja seperti layaknya baru beli. Caranya adalah download Windows 10 ISO versi ringan. Lho, apa bedanya? Kalau kita memilih untuk download Windows 10 ISO versi ringan dan instalasikan di PC kita, maka fitur-fitur, fungsi atau aplikasi yang jarang digunakan, sudah ditiadakan. Selain lebih hemat ruang di harddisk, dibuangnya fitur-fitur yang tidak berguna tersebut akan membuat PC atau laptop spek rendah pun bisa menjalankan Windows 10 dengan lancar. Download Windows 10 Terbaru October 2020 Update Lalu, apa saja yang ada di Windows 10 versi Lite alias versi Ringan tersebut? Nah ini dia: Windows 10 SuperLite Compact (Gaming Edition) x64 – ...

AMD Pangkas Beban Ray Tracing hingga 47 Kali dengan Tetrahedral Cage

AMD memperkenalkan teknik ray tracing yang diklaim mampu memangkas kebutuhan memori dan waktu pembaruan Bounding Volume Hierarchy (BVH) saat menangani geometri animasi dalam jumlah sangat besar. Teknik ini didemonstrasikan AMD Fellow Holger Gruen menggunakan adegan berisi sekitar 25.000 tanaman yang dianimasikan secara independen. Pada tingkat detail maksimum, vegetasi tersebut mencapai sekitar 2,8 miliar segitiga. Setelah proses level-of-detail, sistem masih harus melakukan ray tracing terhadap sekitar 500 juta segitiga animasi setiap frame. AMD menyebut demonstrasi tersebut mampu berjalan di atas 60 FPS pada 1080p menggunakan Radeon RX 9070 XT. Kunci teknik tersebut adalah tetrahedral cage, yakni struktur sederhana yang membungkus geometri kompleks. Pada ray tracing konvensional, objek yang bergerak harus mempertahankan dan memperbarui BVH masing-masing. Ketika jumlah objek dan segitiga meningkat, proses tersebut membutuhkan memori serta waktu komputasi yang besar. AMD justru membuat...

Apa Bedanya Googlebook dengan Chromebook? Ini Perbedaan Hardware, OS dan Fiturnya

Googlebook dan Chromebook sama-sama menyasar pengguna laptop yang membutuhkan perangkat ringan dan terintegrasi dengan layanan Google. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar, terutama pada sistem operasi, dukungan hardware, serta kemampuan kecerdasan buatan. Jika Chromebook dibangun di atas ChromeOS, Googlebook hadir dengan Googlebook OS yang dirancang dengan integrasi Gemini lebih dalam. Hardware Lebih Beragam Chromebook umumnya menggunakan prosesor kelas hemat daya seperti Intel Celeron, Pentium, Core, AMD Ryzen, MediaTek, hingga Snapdragon. Spesifikasinya sangat beragam dan banyak model berada di kelas entry-level hingga menengah. Googlebook memiliki pendekatan yang lebih dekat dengan laptop modern. Lini yang diperkenalkan Google menggunakan Intel Core Ultra Series 3, Qualcomm Snapdragon X Elite, dan SoC MediaTek. Konfigurasinya juga relatif tinggi, misalnya Acer Googlebook 14 menawarkan Core Ultra 5, RAM 16 GB, SSD 512 GB, serta layar OLED 2,8K. Artinya, Googlebook tampaknya d...

AI Bisa Hasilkan 617 Juta Ton Limbah Elektronik hingga 2050

Ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) tidak hanya meningkatkan kebutuhan terhadap chip dan pusat data, tetapi juga berpotensi menciptakan persoalan lingkungan baru. Laporan Basel Action Network (BAN) memperkirakan peralatan terkait AI yang sudah tidak digunakan dapat menghasilkan antara 395 juta hingga 617 juta ton limbah elektronik (e-waste) pada 2025–2050. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 23 juta kontainer kargo berukuran 40 kaki. Jika seluruh kontainer itu disusun memanjang, panjangnya diperkirakan cukup untuk mengelilingi Bumi sekitar enam kali. Perhitungan BAN juga mencoba melihat persoalan e-waste AI secara lebih luas. Estimasi sebelumnya cenderung berfokus pada server dan GPU, sementara BAN memasukkan berbagai infrastruktur pendukung pusat data. Komponennya mencakup perangkat distribusi listrik, sistem pendingin, sumber daya cadangan, hingga perangkat jaringan. Pendekatan tersebut penting karena perangkat AI tidak berdiri sendiri. Setiap pusat data membutuhkan infrastruk...

Review Asus ExpertBook B3 B3404CVA. Laptop Kerja Fleksibel untuk Pendukung Bisnis

Industri laptop bisnis sedang mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Jika dulu perusahaan hanya mencari perangkat yang “cukup bisa dipakai”, kini standar berubah menjadi efisiensi, keamanan, dan daya tahan jangka panjang. Tekanan untuk bekerja hybrid, meningkatnya ancaman siber, serta kebutuhan multitasking membuat laptop bisnis harus lebih dari sekadar alat kerja. Ia harus menjadi fondasi produktivitas. Di sisi lain, tidak semua perusahaan siap mengalokasikan budget untuk perangkat flagship. Di sinilah segmen laptop bisnis menengah menjadi menarik. Pasalnya, laptop bisnis kelas menengah menawarkan keseimbangan antara harga, fitur, dan performa. Namun, kompromi tentunya selalu ada dibanding seri flagship, dan di sinilah evaluasi kritis menjadi penting. Sebagai contoh, Asus mencoba mengisi celah segmen laptop bisnis menengah lewat Asus ExpertBook B3 B3404CVA . Laptop bisnis ini ditujukan untuk perusahaan yang membutuhkan perangkat kerja solid dengan fitur enterprise, tetapi tetap r...