Langsung ke konten utama

Review Asus Zephyrus S GX701GX, Laptop Tipis Pakai RTX

Laptop berbasis Nvidia GeForce kasta terbaru, yakni seri RTX sudah semakin menjamur di pasaran Indonesia. Chip GPU ini, pertamakali diperkenalkan pada akhir kuartal ketiga 2018, hadir dengan kode 20 series, sudah dimanufaktur dalam teknologi 12 nanometer menggunakan microarsitektur Turing dan mendukung real-time ray tracing.

Sebagai pemain utama di industri laptop gaming di Indonesia, Asus tentunya harus tampil lebih awal. Tak pelak, berbagai varian notebook berbasis RTX langsung mereka hadirkan ke pasar Indonesia. Mulai dari seri G yang monster, seri GL yang spesifik ditujukan untuk penggemar game FPS ataupun MOBA, serta seri Zephyrus yang inovatif dan ultra tipis, yang bisa pula digunakan oleh para desainer, video editor, 3D modeller dan arsitektur.


Salah satu varian Zephyrus yang tersedia di Indonesia adalah Zephyrus S GX701GX. Hadir sebagai update terbaru di lini Zephyrus, Zephyrus S terbaru ini punya segambreng fitur yang sebelumnya belum ada pada sebuah notebook. Apa saja?


ROG Zephyrus S menghadirkan standar baru laptop gaming Windows 10 ultra-tipis. Kalau sebelumnya hanya tersedia dalam varian 15 inci, kini Zephyrus S memiliki ukuran lebih besar dengan layar Super Narrow Bezel 17 inci dalam chasis yang hanya setipis 18,7mm.

Zephyrus S GX701 dipersenjatai dengan GPU RTX 2080 dan CPU Intel Core™ i7 8th Gen. Panel 144Hz/3ms dengan validasi warna Pantone sangat mengesankan, dan memiliki fitur ROG-exclusive switch untuk beralih antara mode G-SYNC untuk bermain game dan Optimus untuk daya tahan baterai yang lebih lama.

Desain
Umumnya, notebook dengan layar lebih besar berarti punya bodi yang juga semakin besar. Tetapi bezel tipis dan desain pintar membuat Asus ROG Zephyrus S GX701 ini menjadi salah satu notebook gaming ultimate paling ringkas di kelasnya. Pengguna bagaikan memiliki notebook 15 inci biasa padahal layarnya seluas 17 inci. Agar lebih durable, produk ini juga menggunakan material magnesium-alloy yang tipis dan kokoh untuk dibawa ke manapun pemiliknya pergi.

Meski tipis, Asus menyediakan konektivitas terkini pada Zephyrus S GX701 ini. Dua buah port USB3.1 serta port USB3.1 Type-C tersedia di satu sisi. Plus Kensington lock serta exhaust untuk pembuangan panas.


Di sisi sebaliknya, tersedia exhaust fan, power connector, port HDMI 2.0, USB3.1, USB3.1 Type-C yang mendukung DisplayPort 1.4 serta Power Delivery dan tentunya sebuah headphone and microphone combo jack.


Tombol power pun ditempatkan agak terpisah dari keyboard. Selain meminimalisir risiko tertekan secara tidak sengaja saat bekerja, rasanya sudah tidak ada area lain yang masih lowong untuk menempatkan tombol tersebut. Tetapi justru ini membawa berkah bagi pengguna.

Keyboard-nya sendiri tentunya mendukung backlit RGB yang kekinian. Yang menarik, warna backlit tersebut bisa berbeda-beda di satiap tombol (per-key backlit) berkat fitur Aura Sync yang disediakan secara software. Adapun jarak tekan keyboard yang mencapai 1,4 milimeter membuat penekanan tombol saat bekerja ataupun bermain game menjadi sangat nikmat.


Di bagian atas keyboard, tersedia area kosong yang hanya memiliki logo mata berwarna merah khas ASUS ROG. Area ini sebenarnya adalah area di mana ASUS menempatkan seluruh komponen penghasil performa tinggi, alias penghasil panas seperti CPU dan GPU.

Penempatan seperti ini dijamin tidak akan menggangu pengguna khususnya saat sedang sibuk bermain karena telapak tangan atau ujung jari kepanasan.


Pada notebook unik ini, penempatan keyboard digeser hingga ke bagian bawah tanpa menyisakan ruang untuk palm rest seperti semestinya sebuah notebook. Anda yang mengikuti perkembangan Asus ROG khususnya Zephyrus pasti tidak heran karena desain seperti ini sudah dihadirkan pada Zephyrus versi pertama. Meski pada Zephyrus berikutnya, keyboard kembali digeser ke atas.

Selain untuk menyediakan kenyamanan bagi pengguna yang bermain game tanpa perlu khawatir jari atau telapak tangannya kepanasan, Asus berkilah, para gamers PC tentu juga sudah terbiasa bermain game di komputer desktop yang notabene keyboard-nya tidak punya palm rest. Pengalaman inilah yang dibawa ke notebook.


Tak hanya keyboard-nya yang ditata sedemikian rupa demi kenyamanan penggunaan. Asus pun menyediakan layar yang tidak biasa pada notebook ini. Ya. Layar 17,3 inci Full HD (1920x1080) IPS-level panel yang digunakan mendukung refresh rate 144Hz, response time 3ms, Optimus, G-SYNC, Pantone Validated dengan 100% sRGB. Dahsyat.


Berhubung Asus ROG Zephyrus S GX701GX menggunakan komponen bertenaga, yakni prosesor Intel Core i7-8750H serta grafis Nvidia GeForce RTX 2080 Max-Q design dengan 8GB GDDR6 VRAM, maka suhu tinggi yang dihasilkan oleh komponen-komponen tersebut harus dibuang semaksimal mungkin. Untuk itu, Asus juga menyediakan exhaust ke arah belakang notebook. Tak hanya di sisi kiri dan kanan bodinya.


Tak sampai di situ saja, saat notebook dibuka, engsel layarnya akan secara otomatis mengangkat bagian belakang notebook hingga sekitar 5 derajat.


Asus mengklaim, desain mengangkat seperti ini akan menambah daya sembur pendinginan hingga 32 persen lebih baik dibanding notebook gaming biasa.

Fitur
Ada satu fitur yang sangat unik disediakan Asus pada Zephyrus S GX701GX ini. Jika Anda lihat di bagian atas keyboard, tepatnya di atas tombol F1, tersedia sebuah scroll wheel aneh yang tidak biasa-biasanya ada pada sebuah laptop. Tetapi jangan salah, fitur yang tidak lazim ini merupakan pengatur tingkat kekerasan volume yang amat sangat bermanfaat, khususnya saat Anda sedang sibuk bermain game.

Berhenti sebentar untuk pergi ke menu setting atau ke desktop Windows 10 hanya untuk membesar-kecilkan volume suara tentu sangat mengganggu bukan? Nah, dengan scroll wheel ini, tinggal putar saja. Dari dalam game sekalipun, Anda bisa langsung mengubah tingkat kekerasan suaranya.


Buat Anda yang sudah pernah menggunakan seri ROG Zephyrus sebelumnya, fitur yang satu ini tidak aneh. Tetapi buat yang belum pernah mengetahuinya, Asus menempatkan touchpad pada notebook ini di sisi kanan. Lokasinya di tempat yang biasa kita menemukan numeric pad.

Nah, buat yang tetap butuh numeric pad, Asus bisa mengubah touchpad tersebut menjadi numeric pad. Inilah cikal bakal fitur number pad yang ada pada ZenBook seri UX333 dan UX433 yang juga belum lama ini diluncurkan ke pasaran Indonesia. Anda bisa mengaturnya lewat tombol yang tersedia di atasnya.


Fitur lain yang menjadi keunggulan Asus ROG Zephyrus S GX701GX adalah pendinginannya yang disebut dengan Active Aero Cooler (AAS). Selain body bawah notebook yang sediking mengangkat ke atas saat sedang digunakan, sistem pendinginan komponen yang terdapat di dalamnya pun tak kalah dahsyat.

Pertama, digunakannya lima heatpipe mengular di bawah permukaan untuk menarik panas tidak hanya dari CPU dan GPU, tetapi juga sirkuit pemasok daya. Desain ini diklaim mampu menjaga suhu komponen daya tetap berada di bawah 80°C, yang membantu meningkatkan keandalan notebook dalam jangka panjang.


Selain lima buah heatpipe, tersedia juga kipas ganda yang beroperasi dengan daya 12V yang memungkinkan mereka berputar lebih cepat dan meningkatkan aliran udara dibandingkan dengan kipas 5V biasa. Kipas-kipas ini menarik udara sejuk dari sistem AAS yang membuka di bawah dan menyejukkan bagian atas. Exhaust dipompa melalui empat outlet di tepi sasis, masing-masing dengan jalur yang memisahkan aliran udara hangat dengan lapisan udara dingin yang masuk dari AAS.

Dari sisi software, Anda juga bisa mengatur tingkat kebisingan kipas tersebut, tentunya tergantung kebutuhan ataupun aplikasi yang sedang Anda jalankan. Pilihannya ada mode Turbo untuk pendinginan maksimal, Balance untuk pendinginan memadai namun juga dengan tingkat kebisingan yang wajar, serta Silent, yang bisa menekan kebisingan hingga di bawah 35 desibel.


Untuk pengaturan dan kustomisasi lebih lanjut, Asus kini menggunakan antarmuka yang disebut dengan Armoury Crate yang jauh lebih lengkap dibandingkan dengan ROG Gaming Center yang umumnya tersedia pada notebook ROG versi terdahulu. Di Armoury Crate, kita bisa mengubah aura effect alias warna-warni backlit keyboard RGB sesuai keinginan, tampilan dan tone warna layar sesuai game atau aplikasi yang sedang kita jalankan, sampai mengubah dan mengatur kecepatan kipas CPU, performa dan kecepatan GPU dan lain-lain.

Baca juga:

Spesifikasi
Asus ROG Zephyrus S GX701GX merupakan notebook dengan spesifikasi monster yang disusun dalam dimensi yang tipis. Seluruh persyaratan spesifikasi sebuah notebook gaming dia miliki. Seluruh kebutuhan sebuah notebook untuk video editing dia punya. Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh 3D desainer dan modeller, juga ia punya.

Diperkuat kombinasi CPU-GPU dahsyat, yakni prosesor Intel Core i7 8750H generasi ke-8 yang bisa bekerja hingga 4,1GHz serta GPU mutakhir Nvidia GeForce RTX2080 8GB DDR5, laptop ini dijamin bisa menjalankan game apapun yang diinginkan penggunanya. Mau diajak video editing sampai rendering? Tidak takut!

Berikut ini spesifikasi Asus ROG Zephyrus S GX701GX:


Sebagai sebuah notebook monster, Asus tentunya tak hanya mengandalkan CPU dan GPU saja. Dari sisi RAM, tersedia memori sementara berbasis DDR4 2666MHz sebesar 24GB. Adapun untuk mempercepat performa notebook secara keseluruhan, harddisk sudah tak lagi digunakan dan digantikan secara penuh oleh sebuah SSD NVMe M.2 sebesar 1TB.

Yang juga dahsyat adalah layarnya. Layar 17,3 inci yang dipasang bukanlah layar biasa. Ia mampu menampilkan gambar dengan kecepatan 144Hz dengan response rate hingga 3 milidetik. Dijamin, game apapun yang dimainkan, video dengan kecepatan apapun yang diputar, Anda tidak akan melihat tampilan menjadi blur atau tidak tajam.


Tak hanya itu, layarnya yang meskipun hanya punya resolusi FullHD 1920 x 1080p biasa, merupakan layar IPS level tetapi Pantone Certified sera 100% sRGB. Artinya, warna-warna yang ditampilkan pada layar monitor bisa dipastikan akan sama dan akurat dengan warna-warna aslinya. Sertifikasi Pantone sebagai garansinya. Dengan demikian, tak hanya cocok untuk gamers, notebook ini juga cocok bagi para pelaku di industri video editing, grafis, desain ataupun motion picture.

Performa
Tidak valid tentunya membahas spesifikasi yang se-dahsyat itu tanpa membuktikan performanya dengan melakukan serangkaian test pengujian. Untuk itu, seperti biasa, notebook ini juga akan kami uji dengan berbagai software benchmark yang umum digunakan. Seperti apa performa sistem gaming kelas tinggi yang satu ini?

Untuk mengukur performa CPU, kita akan melakukan pengujian rendering 3D dengan software Cinebench R15. Selain itu juga akan mengukur performa prosesor secara single core ataupun multi-core dengan software GeekBench lalu mengukur performa sistem secara keseluruhan dengan PCMark 10. Pengujian performa grafis sintetik dilakukan dengan 3DMark Fire Strike serta simulasi game dengan Unigine Heaven. Berikut ini hasilnya:






Dari sisi performa CPU, prosesor Intel Core i7-8750H yang digunakan ROG GX701GX dapat bekerja dengan optimal dan meraih skor 1151 untuk CPU di Cinebench. Sebagai gambaran, prosesor yang sama persis yang digunakan MSI GE63 yang pernah kami coba beberapa waktu lalu, hanya meraih 1017 poin, alias 13% lebih rendah. Ini berarti, sistem pendinginan CPU milik Zephyrus S ini bekerja dengan lebih optimal.

Selama ini, Nvidia GeForce GTX1060 didapuk sebagai GPU yang pas untuk gaming. Performanya cukup memadai untuk game-game mutakhir, tetapi harganya pun masih relatif masuk akal. Jika dibandingkan dengan GTX1060 yang pernah kami coba, yang skor 3DMark Fire Strike segmen Graphics-nya mencapai 12 ribu poin lebih, pada RTX 2080 Max-Q, angkanya mencapai lebih dari 22 ribu. Artinya, selisih performanya mencapai 80 persen lebih. Artinya, kalau saat ini notebook gaming Anda menggunakan GTX1060, upgrade ke RTX2080 Max-Q sangatlah direkomendasikan, jika ada anggaran.

Kombinasi CPU dan GPU dalam pengujian aplikasi grafis sintetis juga menunjukkan performa yang dahsyat. Unigine Heaven Benchmark dengan preset setting Extreme mampu menghasilkan skor 3129 poin atau dengan rata-rata 124.2fps. Sangat smooth. Lalu, bagaimana performanya dalam game 3D sebenarnya?


Pengujian menggunakan game Shadow of the Tomb Raider, dengan preset Highest, game dapat dimainkan dengan sangat lancar. Frame rata-ratanya mencapai 89fps.


Pada game lainnya, yakni Final Fantaxy XV, menggunakan setting High Quality resolusi 1920x1080 Fullscreen, ROG Zephyrus S GX701GX mampu meraih skor 8649. Sebagai gambaran, berikut ini tabel peringkat performa CPU-GPU lain untuk perbandingan:


Saat menjalankan game Final Fantasy XV, performa Nvidia GeForce RTX 2080 Max-Q berada di antara RTX 2070 dan GTX 1080Ti. Lalu, bagaimana dengan temperatur prosesor dan grafis saat digunakan untuk bermain game?

Saat kami coba memainkan game Battlefield V, temperatur GPU bisa mencapai 67 derajat Celsius sementara CPU-nya bisa menembus angka 83 derajat Celsius. Dengan setting DirectX Raytracing aktif, sistem dapat menampilkan game secara rata-rata pada angka 75 frame per detik.


Memainkan PUBG yang sangat populer namun relatif lebih ringan dibandingkan Battlefield V, game bisa dimainkan dengan tingkat frama rate 91fps. Temperatur GPU dan CPU mencapai 65 derajat dan 79 derajat Celsius saja.


Lalu, bagaimana performa baterainya? Karena penasaran, kami coba melakukan pengukuran performa baterai Asus ROG Zephyrus S GX701GX menggunakan aplikasi Imtec Battery Mark yang memaksa sistem bekerja secara full load secara terus menerus.


Hasilnya, Imtec mencatat, jika notebook bekerja secara full load secara terus menerus, baterai mampu memasok daya hingga sekitar 1 jam 22 menit. Adapun jika digunakan secara normal dengan beban yang tidak terlalu berat, baterainya sanggup bertahan hingga 2 jam 33 menit.


Kesimpulan
Sebagai sebuah notebook game performa tinggi, Asus ROG Zephyrus S GX701GX merupakan perangkat yang sangat memadai dan diidam-idamkan sebagian besar gamers. Performanya sangat tinggi. Dimensinya tipis dan ringan. Punya fitur pendinginan yang hebat dan personalisasi backlit dan RGB yang sangat lengkap. Belum lagi layar dengan refresh rate serta response rate sangat tinggi.

Bagi para pengguna yang membutuhkan performa mumpuni tetapi dari kalangan non gaming, fitur 100% sRGB Pantone certified IPS level panel, akan sangat bermanfaat. Khususnya bagi mereka, para pekerja kreatif di bidang seni dan visual modern. Kendalanya memang harganya yang lebih dari Rp50 juta. Tetapi, kalau Anda gamers profesional atau content creator serius, dalam 1-2 tahun, karya yang dihasilkan lewat notebook ini bisa memudahkan Anda untuk balik modal.




Postingan Populer

Jangan Beli VGA Dulu. RTX 6000 Sedang Disiapkan

Rumor mengenai lini GPU generasi berikutnya dari Nvidia, yakni GeForce RTX 6000 series berbasis arsitektur Rubin, mulai bermunculan. Meski belum ada konfirmasi resmi, berbagai laporan menyebut arsitektur ini akan membawa peningkatan signifikan, terutama di sektor AI dan ray tracing. Salah satu poin utama dari rumor yang beredar adalah pendekatan pengembangan Rubin yang disebut berangkat dari GPU data center. Artinya, desain awalnya difokuskan untuk kebutuhan komputasi skala besar sebelum diadaptasi ke segmen gaming.  Strategi ini konsisten dengan arah Nvidia dalam beberapa generasi terakhir, di mana inovasi AI dan akselerasi komputasi diperkenalkan lebih dulu di segmen enterprise. Di sisi manufaktur, Rubin disebut akan menggunakan proses 3nm dari TSMC. Perpindahan ke node yang lebih kecil ini berpotensi meningkatkan efisiensi daya sekaligus memungkinkan jumlah transistor yang lebih besar. Dampaknya bisa terlihat pada peningkatan jumlah core, cache, hingga bandwidth memori yang lebi...

Intel Tancap Gas. Siapkan Core Ultra Series 4 Nova Lake-HX

Intel kembali menyiapkan strategi agresif di segmen laptop performa tinggi lewat bocoran prosesor generasi terbaru, Core Ultra Series 4 “Nova Lake-HX”. Informasi dari leaker terpercaya mengindikasikan bahwa lini ini tidak sekadar refresh, melainkan lompatan arsitektural yang secara spesifik ditujukan untuk gaming notebook dan mobile workstation kelas berat. Berbeda dari varian mainstream “Nova Lake-H”, seri HX diposisikan sebagai platform dengan I/O lebih luas dan dukungan penuh untuk discrete GPU. Ini terlihat jelas dari konfigurasi inti yang jauh lebih kompleks.  Varian flagship disebut mengusung kombinasi 8 Performance core (P-core) berbasis arsitektur Coyote Cove dan 16 Efficiency core (E-core) berbasis Arctic Wolf, ditambah 4 low-power E-core (LPE) yang ditempatkan terpisah di SoC tile. Secara total, konfigurasi 8P+16E+4LPE ini menandai pendekatan heterogen yang semakin matang dalam desain CPU modern. Namun Intel tidak berhenti di satu konfigurasi. Varian performa menengah jug...

Review Asus ExpertBook P1403CVA. Laptop Bisnis Terjangkau untuk Jangka Panjang

Dalam beberapa bulan terakhir, industri laptop menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga komponen, terutama RAM dan SSD. Permintaan global terhadap memori dan penyimpanan meningkat seiring transformasi digital, cloud computing, serta tren kerja hybrid.  Situasi tersebut diperparah oleh ketidakstabilan rantai pasok, sehingga harga komponen menjadi fluktuatif. Dampaknya, banyak produsen laptop harus melakukan penyesuaian konfigurasi, bahkan di segmen premium sekalipun. Menariknya, kondisi tersebut justru mempercepat pertumbuhan pasar laptop bisnis. Banyak perusahaan dan profesional mulai beralih dari laptop consumer ke perangkat profesional yang dirancang lebih tahan lama.  Fokus tidak lagi pada spesifikasi tinggi di awal, melainkan efisiensi investasi dalam jangka panjang. Laptop bisnis menawarkan daya tahan, keamanan, serta fleksibilitas upgrade yang menjadi semakin penting. Kenaikan harga RAM dan SSD juga membuat konsep modular menjadi nilai utama. Laptop bisnis sepert...

Proses Fabrikasi 2 Nanometer TSMC Bocor, Dicuri Orang Dalam

Kasus dugaan pencurian teknologi kembali mengguncang industri semikonduktor global. Sejumlah mantan dan karyawan aktif TSMC kini menghadapi proses hukum di Taiwan terkait kebocoran rahasia dagang yang dikaitkan dengan pengembangan proses fabrikasi 2nm (N2), salah satu teknologi paling strategis di industri chip saat ini. Menurut laporan yang beredar, otoritas menemukan indikasi pelanggaran terhadap Undang-Undang Keamanan Nasional. Investigasi menyebut bahwa sejak 2023 hingga pertengahan 2025, sejumlah insinyur diduga diminta untuk membocorkan informasi teknis penting oleh pihak eksternal. Informasi tersebut mencakup detail proses manufaktur dan parameter kritikal yang digunakan dalam produksi chip generasi terbaru. Pihak yang disebut terlibat dalam skema ini antara lain individu yang kini terafiliasi dengan Tokyo Electron, perusahaan pemasok peralatan semikonduktor. Tujuannya diduga untuk meningkatkan performa mesin etching agar memenuhi standar produksi massal TSMC untuk node 2nm....

Apple Siapkan Perangkat Lipat. Layarnya dari Samsung

Langkah agresif kembali diambil Samsung Electronics dengan mengamankan kontrak eksklusif selama tiga tahun untuk memasok layar foldable kepada Apple. Kesepakatan ini bukan sekadar kerja sama biasa, melainkan sinyal kuat pergeseran peta persaingan di industri komponen premium. Berdasarkan sejumlah laporan, Apple memilih Samsung sebagai satu-satunya pemasok panel OLED lipat karena keterbatasan alternatif. Kompetitor seperti BOE dinilai belum mampu menyamai kualitas, sementara LG Display masih menghadapi tantangan dalam produksi massal panel foldable yang kompleks.  Ini menempatkan Samsung dalam posisi dominan, bukan hanya sebagai pemasok, tetapi sebagai gatekeeper teknologi layar lipat. Dari sisi finansial, momentum ini datang di waktu yang tepat. Samsung telah memproyeksikan lonjakan laba operasional signifikan, didorong oleh pemulihan pasar memori dan kontrak bernilai tinggi seperti ini. Bahkan, analis memperkirakan potensi Samsung melampaui Nvidia dalam perolehan profit global dal...