China akhirnya berhasil mencapai sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap hampir mustahil yakni membangun GPU gaming modern sendiri yang benar-benar bisa dipakai bermain game AAA. Namun kemunculan Lisuan LX 7G100, GPU gaming modern tersebut juga memperlihatkan betapa brutalnya industri GPU global saat ini.
Masalah terbesar Lisuan bukan sekadar performa. Masalah utamanya adalah timing. Mereka masuk ke pasar ketika Nvidia sudah membangun ekosistem AI dan gaming yang nyaris tak tergoyahkan, AMD semakin agresif di price-to-performance, dan Intel mulai menemukan pijakan lewat Arc.
Dari sisi performa, di game Cyberpunk 2077 ia hanya berjalan di 88 fps pada 1080p FSR3 Quality, tertinggal jauh dari RTX 4060 dan Intel Arc B580 yang menembus lebih dari 230 fps. Black Myth: Wukong hanya mencapai 56 fps, sementara Forza Horizon 5 bahkan turun ke 48 fps pada preset Low.

Yang membuat situasi makin sulit adalah harga. LX 7G100 dibanderol sekitar US$480, level harga yang langsung berhadapan dengan GPU mainstream jauh lebih kuat seperti RTX 5060 Ti.
Akibatnya, GPU pertama yang seharusnya menjadi simbol kebangkitan teknologi China justru terlihat seperti produk generasi tertinggal dengan harga terlalu mahal. RTX 3060-class performance di harga RTX 5060 Ti jelas bukan kombinasi sehat untuk pasar gaming modern.
Namun akan menjadi kesalahan besar jika industri menganggap proyek ini gagal. Yang sedang dibangun China bukan hanya kartu grafis, melainkan seluruh fondasi industri GPU independen. Mulai dari arsitektur, compiler, driver, software stack, hingga rantai pasok domestik.
Dan sejarah industri semikonduktor, dan juga industri teknologi canggih lainnya, menunjukkan satu hal penting. Produk generasi pertama hampir selalu buruk. Tetapi jika investasi terus mengalir dan pemerintah tetap agresif mendukung industri lokal, maka ancaman sebenarnya mungkin baru akan terasa beberapa generasi lagi. Ingat ketika Elon Musk menertawakan inovasi BYD dibandingkan dengan Tesla?

