Klaim viral yang menyebut Bumi akan “kehilangan gravitasi” selama tujuh detik pada Agustus 2026 ramai beredar di media sosial dan memicu kepanikan massal. Narasi ini ditonton jutaan kali, disertai tuduhan adanya proyek rahasia NASA dan ancaman bencana global.
Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa klaim tersebut sepenuhnya tidak berdasar dan berangkat dari kesalahpahaman mendasar tentang fisika.
Isu ini berpusat pada tanggal 12 Agustus 2026, yang kebetulan bertepatan dengan fenomena astronomi nyata berupa gerhana Matahari total. Dalam berbagai unggahan viral, peristiwa tersebut dikaitkan dengan “anomali gravitasi” yang disebut-sebut akan menyebabkan puluhan juta kematian, runtuhnya atmosfer, hingga kehancuran geologis berskala global. NASA dengan tegas membantah klaim tersebut.
Teori konspirasi ini mengacu pada dokumen bocoran fiktif bernama Project Anchor, yang diklaim berasal dari NASA dan muncul pada November 2024. Dokumen tersebut disebut menjelaskan hilangnya gravitasi selama tujuh detik dan bahkan mengklaim adanya alokasi dana US$89 miliar untuk mitigasi dampak. Tidak satu pun klaim ini memiliki bukti nyata.
NASA, dalam pernyataannya kepada media pemeriksa fakta, menegaskan bahwa gravitasi bukanlah sistem yang bisa “dimatikan sementara”. Gravitasi Bumi ditentukan oleh massanya. Satu-satunya cara Bumi kehilangan gravitasi adalah jika planet ini kehilangan massa secara masif. Mulai dari inti, mantel, kerak, hingga atmosfer, sebuah skenario yang secara praktis mustahil.
NASA juga menepis kaitan antara gerhana Matahari dan gravitasi. Gerhana hanya memengaruhi pencahayaan, bukan gaya gravitasi. Interaksi gravitasi Matahari dan Bulan hanya berdampak pada pasang surut, bukan pada gravitasi Bumi secara keseluruhan.
Sebagian besar narasi menyesatkan ini ditelusuri berasal dari video YouTube kanal sains What If yang diunggah pada 2020. Video tersebut membahas skenario hipotetis jika gravitasi menghilang, sebagai eksperimen pemikiran, bukan prediksi ilmiah. Sayangnya, konteks ini hilang saat potongan video disebarkan ulang.
Para ilmuwan menilai fenomena ini sebagai contoh klasik disinformasi sains yakni teori spektakuler yang terdengar meyakinkan, tetapi runtuh ketika diuji dengan prinsip fisika dasar.


