Krisis pasokan chip memori diperkirakan masih akan membayangi industri perangkat keras global sepanjang 2026. Hal ini diungkapkan oleh Chief Executive Officer Lenovo, Yang Yuanqing, yang menilai ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan bukan sekadar fenomena sementara.
Lonjakan kebutuhan memori, terutama untuk perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI), menjadi faktor utama yang menekan ketersediaan komponen tersebut.
Dalam laporan kinerja terbaru, Lenovo mencatat penurunan laba bersih sebesar 21% pada kuartal Desember, yang memicu penurunan saham sekitar 4,7%. Meski begitu, pendapatan perusahaan justru melampaui ekspektasi pasar dan mencapai US$22,2 miliar. Lenovo menyoroti tekanan margin akibat kenaikan biaya memori yang meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Yang, anggaran belanja memori Lenovo melonjak 40% hingga 50% pada kuartal terakhir. Bahkan, harga kontrak memori diperkirakan dapat meningkat dua kali lipat pada kuartal berjalan. Kondisi ini diprediksi akan terus berlangsung hingga akhir tahun dan berpotensi menekan permintaan konsumen, khususnya di segmen entry-level.
Permintaan PC sempat terdorong oleh musim liburan dan pembelian awal sebelum kenaikan harga. Berdasarkan data International Data Corporation, pasar PC global tumbuh 9,6% pada kuartal terakhir. Selain Lenovo, produsen besar seperti HP Inc. dan Dell Technologies juga mencatat pertumbuhan pengiriman dua digit.
Namun, lonjakan kebutuhan infrastruktur AI mempersempit pasokan memori bagi industri lain. Lenovo menilai skala bisnis global memberi keunggulan dalam negosiasi dengan pemasok, sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis server AI. Infrastruktur Solutions Group Lenovo mencatat pendapatan US$5,2 miliar, naik 31% secara tahunan.
Optimisme industri juga diperkuat proyeksi permintaan berkelanjutan dari pemasok seperti Nvidia dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company, yang menilai investasi pusat data AI masih akan terus meningkat.


