Langsung ke konten utama

Pixel Buds 2, Earphone TWS Pertama Google

Di ajang Made By Google pada bulan Oktober 2019 lalu, bersamaan dengan pengumuman smartphone seri Pixel 4, Google pertama kali memperkenalkan sebuah perangkat true wireless stereo (TWS) pertama mereka.

Akhirnya, enam bulan kemudian, tepatnya pada 27 April 2020, Google secara resmi mulai melakukan penjualan terhadap Google Pixel Buds, TWS perdana mereka ke pasaran global.

Sama seperti Apple AirPods yang digadang-gadang menjadi pesaingnya, Google Pixel Buds datang dalam aksesori carrying case yang sekaligus berfungsi sebagai pengisi ulang baterai saat earphone disimpan di dalamnya. 

Nama Pixel Buds sendiri sama dengan earphone Google keluaran 2017 yang juga dipanggil Pixel Buds. Namun, Pixel Buds terbaru ini merupakan model true wireless yang tidak tersambung kabel antara bagian earpiece kanan dan kiri. 

Selain itu, pada Pixel Buds versi 2020, Google juga memperkenalkan teknologi pairing baru melalui Bluetooth.

Baca juga:


Serupa pendahulunya, Pixel Buds baru memungkinkan pengguna mengakses Google Assistant. Google mengklaim, pengguna dapat menikmati fitur penerjemah secara langsung pada Pixel Buds ini. 

Fitur itu sendiri sebenarnya telah tersedia sejak Pixel Buds generasi pertama diluncurkan. Namun kala itu, kemampuan ini mendapat banyak kritik akibat kurang mampu menyuguhkan terjemahan yang mulus dan sesuai, dan kini diklaim mengusung kemampuan lebih baik. 

Pixel Buds baru ini juga akan menerima update di masa mendatang, dengan bekal fitur-fitur baru.

Secara desain, perangkat ini dilengkapi dengan karet tambahan (stabilizer arc) agar tetap presisi alias tidak mudah lepas ketika digunakan untuk berolahraga sekalipun. 

Bodinya sudah dibuat tahan keringat dan tetesan air dengan sertifikasi ketahanan IPX4. 

Dalam sekali penggunaan, Pixel Buds (2020) diklaim dapat bertahan selama lima jam non-stop untuk mendengarkan musik dalam sekali pengisian penuh. Dikombinasikan dengan wireless charging case, total waktu penggunaan adalah 24 jam. Baterai carrying case bisa diisi secara nirkabel atau menggunakan kabel lewat port USB Type-C.

Saat ini, Pixel Buds tersebut baru tersedia dalam pilihan warna Clearly White, namun tiga warna lainnya yaitu Oh So Orange, Quite Mint dan Almost Black akan tersedia dalam beberapa bulan mendatang. Harganya dipatok di angka 179 dolar AS (sekitar Rp2,7 juta) dan sudah bisa didapatkan di situs resmi Google di beberapa negara.

Semoga bisa segera hadir secara resmi di pasaran Indonesia ya guys.

Postingan Populer

Jangan Beli VGA Dulu. RTX 6000 Sedang Disiapkan

Rumor mengenai lini GPU generasi berikutnya dari Nvidia, yakni GeForce RTX 6000 series berbasis arsitektur Rubin, mulai bermunculan. Meski belum ada konfirmasi resmi, berbagai laporan menyebut arsitektur ini akan membawa peningkatan signifikan, terutama di sektor AI dan ray tracing. Salah satu poin utama dari rumor yang beredar adalah pendekatan pengembangan Rubin yang disebut berangkat dari GPU data center. Artinya, desain awalnya difokuskan untuk kebutuhan komputasi skala besar sebelum diadaptasi ke segmen gaming.  Strategi ini konsisten dengan arah Nvidia dalam beberapa generasi terakhir, di mana inovasi AI dan akselerasi komputasi diperkenalkan lebih dulu di segmen enterprise. Di sisi manufaktur, Rubin disebut akan menggunakan proses 3nm dari TSMC. Perpindahan ke node yang lebih kecil ini berpotensi meningkatkan efisiensi daya sekaligus memungkinkan jumlah transistor yang lebih besar. Dampaknya bisa terlihat pada peningkatan jumlah core, cache, hingga bandwidth memori yang lebi...

Apple Siapkan Perangkat Lipat. Layarnya dari Samsung

Langkah agresif kembali diambil Samsung Electronics dengan mengamankan kontrak eksklusif selama tiga tahun untuk memasok layar foldable kepada Apple. Kesepakatan ini bukan sekadar kerja sama biasa, melainkan sinyal kuat pergeseran peta persaingan di industri komponen premium. Berdasarkan sejumlah laporan, Apple memilih Samsung sebagai satu-satunya pemasok panel OLED lipat karena keterbatasan alternatif. Kompetitor seperti BOE dinilai belum mampu menyamai kualitas, sementara LG Display masih menghadapi tantangan dalam produksi massal panel foldable yang kompleks.  Ini menempatkan Samsung dalam posisi dominan, bukan hanya sebagai pemasok, tetapi sebagai gatekeeper teknologi layar lipat. Dari sisi finansial, momentum ini datang di waktu yang tepat. Samsung telah memproyeksikan lonjakan laba operasional signifikan, didorong oleh pemulihan pasar memori dan kontrak bernilai tinggi seperti ini. Bahkan, analis memperkirakan potensi Samsung melampaui Nvidia dalam perolehan profit global dal...

Intel Tancap Gas. Siapkan Core Ultra Series 4 Nova Lake-HX

Intel kembali menyiapkan strategi agresif di segmen laptop performa tinggi lewat bocoran prosesor generasi terbaru, Core Ultra Series 4 “Nova Lake-HX”. Informasi dari leaker terpercaya mengindikasikan bahwa lini ini tidak sekadar refresh, melainkan lompatan arsitektural yang secara spesifik ditujukan untuk gaming notebook dan mobile workstation kelas berat. Berbeda dari varian mainstream “Nova Lake-H”, seri HX diposisikan sebagai platform dengan I/O lebih luas dan dukungan penuh untuk discrete GPU. Ini terlihat jelas dari konfigurasi inti yang jauh lebih kompleks.  Varian flagship disebut mengusung kombinasi 8 Performance core (P-core) berbasis arsitektur Coyote Cove dan 16 Efficiency core (E-core) berbasis Arctic Wolf, ditambah 4 low-power E-core (LPE) yang ditempatkan terpisah di SoC tile. Secara total, konfigurasi 8P+16E+4LPE ini menandai pendekatan heterogen yang semakin matang dalam desain CPU modern. Namun Intel tidak berhenti di satu konfigurasi. Varian performa menengah jug...

Qualcomm Snapdragon X2 Elite Bagus, Tapi Harga Mahal

Momentum Windows on Arm kembali menguat seiring kesiapan generasi baru chipset dari Qualcomm, khususnya Snapdragon X2 Elite. Dengan performa yang diklaim kompetitif terhadap lini terbaru silikon Apple dan meningkatnya dukungan aplikasi native, platform ini mulai menunjukkan potensi keluar dari status “niche”. Secara teknis, fondasi memang semakin solid. Performa CPU dan efisiensi daya meningkat signifikan dibanding generasi sebelumnya, sementara ekosistem software mulai beradaptasi. Semakin banyak developer yang melihat Windows on Arm sebagai platform serius, bukan sekadar eksperimen terbatas dengan kompatibilitas parsial. Namun, di balik progres tersebut, tantangan struktural masih membayangi. Sejumlah laporan komunitas mengindikasikan bahwa produsen laptop (OEM) justru memposisikan perangkat berbasis Snapdragon X2 Elite di segmen premium. Strategi ini dinilai kontraproduktif, mengingat adopsi awal membutuhkan harga yang lebih agresif untuk membangun basis pengguna. Kasus peluncuran A...

Review Asus ExpertBook P1403CVA. Laptop Bisnis Terjangkau untuk Jangka Panjang

Dalam beberapa bulan terakhir, industri laptop menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga komponen, terutama RAM dan SSD. Permintaan global terhadap memori dan penyimpanan meningkat seiring transformasi digital, cloud computing, serta tren kerja hybrid.  Situasi tersebut diperparah oleh ketidakstabilan rantai pasok, sehingga harga komponen menjadi fluktuatif. Dampaknya, banyak produsen laptop harus melakukan penyesuaian konfigurasi, bahkan di segmen premium sekalipun. Menariknya, kondisi tersebut justru mempercepat pertumbuhan pasar laptop bisnis. Banyak perusahaan dan profesional mulai beralih dari laptop consumer ke perangkat profesional yang dirancang lebih tahan lama.  Fokus tidak lagi pada spesifikasi tinggi di awal, melainkan efisiensi investasi dalam jangka panjang. Laptop bisnis menawarkan daya tahan, keamanan, serta fleksibilitas upgrade yang menjadi semakin penting. Kenaikan harga RAM dan SSD juga membuat konsep modular menjadi nilai utama. Laptop bisnis sepert...