Nvidia tampaknya tidak lagi puas hanya mendominasi pasar GPU AI. Lewat Vera, perusahaan kini secara agresif mencoba mengambil alih pasar CPU server yang selama puluhan tahun dikuasai Intel dan AMD. Bahkan, Nvidia mengklaim pendapatan CPU mereka tahun ini bisa menyentuh US$20 miliar hanya dari Vera, angka yang cukup untuk menjadikan mereka pemasok CPU terbesar di dunia.
Vera sendiri merupakan CPU berbasis ARM dengan 88 custom Olympus cores yang dirancang khusus untuk workload agentic AI, inference, orchestration, reinforcement learning, hingga long-context state management.
Berbeda dari CPU server tradisional yang fokus pada multi-core scalability demi kebutuhan virtualisasi dan cloud generasi lama, Vera dirancang untuk satu tujuan yakni mempercepat eksekusi AI agents seefisien mungkin.
Secara teknis, Nvidia mengklaim Vera menawarkan performa 50% lebih tinggi per-core, efisiensi daya dua kali lebih baik, serta densitas rack empat kali lebih tinggi dibanding platform x86 tradisional. CPU ini juga memiliki bandwidth memori mencapai 1.2TB/s dan terintegrasi erat dengan GPU Rubin melalui NVLink dalam ekosistem Extreme Co-Design milik Nvidia.
Yang menarik, Vera bukan sekadar “pendamping GPU”. Jensen Huang secara terang-terangan menyebut Vera sebagai “agentic CPU”, sinyal bahwa Nvidia melihat masa depan komputasi AI tidak lagi berpusat pada konsep klasik seperti jumlah core atau virtual machine density. Dalam dunia AI agents, menurut Huang, yang penting bukan lagi “menyewa core”, melainkan menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin.
Namun ambisi Nvidia juga menghadapi tantangan serius. Vera dan Rubin sangat bergantung pada LPDDR5X yang saat ini sudah mengalami tekanan suplai akibat ledakan industri AI global. Jensen Huang bahkan mengakui Vera Rubin kemungkinan akan mengalami supply constraint sepanjang siklus hidupnya.
Jika Nvidia berhasil mengeksekusi strategi ini, maka dampaknya bisa sangat besar. Pasar server AI tidak lagi sekadar pertarungan GPU, melainkan perang penuh antara CPU, GPU, memori, networking, hingga software stack dalam satu ekosistem tertutup. Dan untuk pertama kalinya, Nvidia mencoba mengendalikan semuanya sekaligus.


