Langsung ke konten utama

Review Huawei P30 Lite, Smartphone Kamera Murah Meriah

Anda penggemar smartphone dengan fitur kamera hebat? Mungkin Anda perlu melirik smartphone besutan Huawei. Ya, produsen asal negeri Tiongkok yang satu ini terkenal sebagai pembuat smartphone yang punya kemampuan kamera luar biasa, di atas rata-rata.

Ambil contoh saja misalnya seperti Huawei P40 series yang baru saja diluncurkan. Dari review Huawei P40 Pro yang sudah banyak bermunculan di Internet menyatakan betapa dahsyatnya kamera milik smartphone flagship yang satu itu.


Yang jadi masalah, smartphone yang kameranya hebat besutan Huawei umumnya merupakan seri flagship. Misalnya dari seri P ataupun seri Mate yang bahkan lebih premium.

Sebenarnya bukan masalah buat mereka yang punya dompet tebal. Tapi buat yang punya anggaran pas pasan, biasanya hanya bisa bermimpi atau menurunkan ambisi dengan membeli smartphone yang harganya lebih terjangkau, yang punya kamera yang setidaknya, mendekati kehebatan flagship Huawei tersebut.


Namun tentunya, Huawei sadar diri dan tak ingin pengguna terpaksa membeli smartphone brand lain. Bersama dengan peluncuran seri flagship-nya, mereka juga merilis versi “bungsu” dari flagship yang bersangkutan.

Sebagai contoh, saat mereka merilis seri P30 Pro dan P30 di kuartal pertama tahun 2019 lalu, mereka juga menghadirkan seri P30 Lite ke pasaran sebagai alternatif. Secara desain, bentuk dan fitur, tentunya ketiganya mirip. Tetapi pada seri Lite, tentu ada beberapa hal yang dikurangi.

Sekarang kita akan membahas review Huawei P30 Lite, smartphone kamera murah meriah Huawei saat ini. Ya, mereka memang punya juga seri Nova yang kameranya tak kalah hebat. Tapi tentunya, ada rasa yang kurang karena bukan dari seri P. Oke, seperti apa Huawei P30 Lite, berikut ini ulasan kami, khususnya soal kameranya.


Sebagai gambaran, harga Huawei P30 Lite saat artikel ini dibuat sudah murah. Harganya sudah turun dibandingkan saat ia diluncurkan pertamakali di pasaran Indonesia. Dulu, ketika hadir di pasaran Indonesia pada April 2019, Huawei P30 Lite dijual di harga Rp4,299 juta. Unit review yang kali ini kita bahas, kami dapatkan di harga Rp2,494 juta saja di salah satu marketplace Indonesia. Worth it? Jelas!

Desain
Meskipun tidak se-premium seri P30 Pro, Huawei P30 Lite tetaplah merupakan sebuah smartphone yang berdesain cantik dan berkualitas tinggi. Sama halnya seperti saudaranya yang lebih mahal, Huawei P30 Lite menggunakan desain casing belakang yang terbuat dari curved glass yang dikelilingi oleh lapisan aluminium yang kokoh.


Kebetulan yang kali ini kita dapatkan adalah Midnight Black. Di bagian belakang atas smartphone, terdapat tiga buah kamera yang disusun secara vertikal serta dilengkapi oleh LED flash di bagian bawahnya. Di sebelahnya, terdapat sensor sidik jari dengan bentuk lingkaran. Posisinya yang tepat di tengah membuatnya mudah dijangkau oleh jari baik tangan kiri ataupun kanan.


Di sisi kanan, Huawei menempatkan tombol power di bagian bawah, dan di bagian atasnya terdapat tombol volume rocker yang cukup tactile saat ditekan. Di sisi sebaliknya, tidak ada tombol, port atau slot apapun. Bersih.


Beralih ke bagian bawah, terdapat port USB type C untuk transfer data dan pengisian ulang baterai. Speaker. Microphone berada tepat di sebelahnya dan speaker grill di sisinya, serta port audio jack 3,5 milimeter di sudut lain dari bagian bawah smartphone.

Slot SIM tray smartphone ini letaknya di bagian atas smartphone. SIM tray-nya sendiri berjenis hybrid yang membuat pengguna harus memilih akan memasang dua kartu SIM atau satu SIM card dan satu MicroSD card. Meski beberapa dari Anda mungkin akan merasa ini sebuah kekurangan, tetapi perlu Anda ingat. Smartphone ini punya kapasitas storage yang lega, yakni sebesar 128GB. Rasanya, untuk saat ini, kapasitas tersebut masih cukup memadai untuk kebutuhan sehari-hari.


Dari sisi desain, handset Huawei P30 Lite sendiri ketebalannya hanya 7,4 milimeter. Ia sangat ringkas dan pas jatuhnya di telapak tangan, dengan bagian belakang berbentuk curved glass. Sensasi menggenggam smartphone ini pun mantap karena build quality-nya sangat baik meski berbahan plastik.

Rasio aspek layarnya yang 19,5:9 membuat Anda perlu membiasakan diri dengan smartphone yang bentuknya memanjang. Tetapi, rasio aspek tersebut sudah lumrah untuk smartphone kekinian.

Secara keseluruhan, dari sisi desain Huawei P30 Lite tidak kalah dengan saudaranya yang versi premium yakni P30 ataupun P30 Pro. Tampilannya elegan dan material serta built quality yang ditawarkan pun tidak ada yang dikurangi. Cita rasa smartphone flagship tidak dikurangi sama sekali oleh Huawei pada smartphone mainstream yang satu ini.

Kamera dan Fitur
Dari sisi fitur, di dalam sistem operasi Android 9 yang digunakan, Huawei memasang antarmuka EMUI 9. Yang menarik, saat ulasan ini kami lakukan, Huawei sudah menghadirkan ugrade sistem operasi ke Android 10 serta EMUI 10 pada smartphone ini.

Dari pengalaman kami, update OS yang dihadirkan kini menawarkan peningkatan fitur milik Android Q dan juga kustomisasi lain khas EMUI. Beberapa di antaranya antara lain adalah desain user experience (UX) yang baru, mode gelap untuk memberikan visual yang nyaman, dan mengadopsi teknologi terdistribusi yang revolusioner, untuk mendukung video call resolusi HD antar banyak perangkat.

Tak hanya itu, Huawei pun meningkatkan sistem keamanan. Untuk meningkatkan pengalaman produk, Huawei membangun sistem keamanan terdistribusi untuk setiap kebutuhan yang ada. Berikut ini informasi terbaru terkait sistem operasi dan setting yang terdapat pada Huawei P30 Lite di Android 10:


Demi menambah kenyamanan, Huawei P30 Lite menggunakan layar 6,15 inci dengan resolusi Full HD+ 2312 x 1080 pixel. Layarnya yang berdesain edge-to-edge dengan notch model waterdrop sanggup menampilkan hingga 16,7 juta warna. Meski demikian, layarnya bukanlah jenis AMOLED seperti yang digunakan pada seri di atasnya.

Sebagai gantinya, Huawei memilih layar jenis low temperature polycrystalline silicon (LTPS) pada smartphone ini. Teknologi terbaru di industri layar elektronik ini menawarkan resolusi yang lebih tinggi, response yang lebih cepat serta tidak terlalu reflektif, dan juga kaya akan warna. Meski demikian, ada juga kekurangannya. Ia lebih cepat turun kualitasnya dibanding LCD biasa dan masih relatif lebih mahal.

Dari sisi kamera, yang menjadi spesialisasinya Huawei, P30 Lite dilengkapi fitur yang cukup kayak. Setup tiga gamera belakang yang disediakan terdiri dari kamera utama 24MP (f/1.8), satu kamera ultra wide 8MB (f/2.4), serta satu kamera 2MP (f/2.4) untuk depth sensing alias efek bokeh. Adapun untuk kamera depannya punya resolusi yang lebih besar yakni 32MP (f/2.0).

Sayangnya, kamera utama tersebut tidak dilengkapi dengan fitur optical image stabilization (OIS) dan juga tidak mendukung perekaman video 4K. Namun demikian, tidak perlu khawatir, fitur-fiturnya sangat lengkap dan hasil jepretannya pun oke. Berikut ini beberapa pilihan mode memotret pada Huawei P30 Lite:


 Dapat Anda lihat, pilihan yang tersedia cukup lengkap pada bagian setting. Yang menarik adalah adanya fitur Capture smiles, Object tracking, serta Gesture control untuk memotret tanpa perlu menekan tombol shutter. Ada pula opsi Mirror reflection agar hasil foto selfie yang Anda ambil tidak terbalik secara horizontal.

Lalu, apa saja opsi pemotretan yang tersedia? Berikut ini pilihannya:


Pada mode Night, yang menjadi andalan utama smartphone Huawei, Anda bisa memilih ISO 100 sampai 1600 dan juga shutter speed ¼ sampai 32 detik. Tentunya Auto juga ada. Fitur Night ini sangat bermanfaat saat Anda memotret dalam kondisi gelap. Kamera akan mengambil beberapa frame foto dan menggabungkannya menjadi satu, sehingga menghasilkan tangkapan yang lebih terang.

Fitur pemotretan lain yang disediakan antara lain adalah Pro, Slow Mo, Panorama, Aperture, Light Painting, HDR, Time Lapse, Moving Picture, 3D Panorama, Stickers dan mode pemotretan Documents. Moving picture adalah seperti memotret dalam format GIF. Untuk mode lain, rasanya sudah cukup menjelaskan.

Meski ada sangat banyak mode memotret yang disediakan, mode yang paling menarik untuk dicoba dan dieksplorasi pengguna adalah fitur Pro. Di mode pemotretan ini pengguna bisa mengatur berbagai opsi mulai dari metering, ISO, shutter speed, exposure value, auto focus dan white balance. Pilihannya sangant lengkap.

Meski demikian, tentunya banyak juga di antara pengguna yang tidak ingin repot harus mengubah beraneka setting yang ada dan memilih memotret langsung apapun yang sedang ingin mereka dokumentasikan menggunakan setting Auto. Untuk itu, berikut ini beberapa contoh hasil foto yang kami ambil dalam berbagai skenario, semuanya menggunakan kamera utama dengan setting default:










Berikut ini contoh objek yang sama, namun dipotret dengan mode yang berbeda. Gambar kiri adalah memotret dengan mode Auto, sementara di gambar kanan, adalah hasil foto menggunakan mode Night. Tampak hasilnya lebih terang dan tajam. Namun jika kita lihat versi ukuran sebenarnya, entah mengapa hasilnya seperti lukisan dengan cat minyak.


Dari hasil percobaan memotret berbagai objek baik indoor ataupun outdoor yang kami lakukan di atas, tampak hasil foto kamera Huawei P30 Lite ini cukup baik. Dalam beberapa kondisi, hasil fotonya tajam, warnanya dapat dan berkat kamera Depth Sensing yang bagus, efek bokeh yang dihasilkan pun cukup halus.


Namun demikian, beberapa waktu lalu kami pernah menjajal smartphone besutan Huawei lainnya yakni P20 Pro dan juga Nova 3i. Rasanya, kami masih lebih cocok dengan hasil foto kamera smartphone tersebut. Dibandingkan dengan P20 Pro tentunya memang jauh. Smartphone itu sempat menjadi smartphone dengan kamera terbaik di jamannya.

Baca juga:

Namun dibandingkan dengan Nova 3i, hasilnya tampaknya lebih baik hasil foto Nova 3i. Tetapi ini pun tidak perlu dipermasalahkan. Dengan berjalannya waktu, biasanya produsen smartphone selalu merilis update terhadap software smartphone besutannya dan memberikan perbaikan di sana-sini, termasuk fitur dan hasil kameranya. Jadi jangan khawatir. Apalagi Huawei juga terkenal sebagai produsen yang rajin update software dan meningkatkan kemampuan produk-produk yang mereka jual ke pasar.

Spesifikasi dan Performa
Sebagai sebuah smartphone flaghship ekonomis, Huawei P30 Lite tentunya menawarkan spesifikasi yang sangat memadai. Dan sudah seperti biasa, Huawei menggunakan chipset milik pribadi untuk mengotaki smartphone yang mereka jual. Ya, mereka tidak memasang prosesor buatan Qualcomm ataupun Mediatek di dalam ponselnya.

Berhubung dia bukanlah flagship top of the line, tentunya prosesor yang digunakan pun bukanlah yang paling tinggi. Meski begitu prosesor Hisilicon Kirin 710 yang dipasang di dalamnya tidak bisa dipandang remeh. Seperti apa performanya? Sebelum kita mengulas performa prosesor Hisilicon Kirin 710 pada Huawei P30 Lite, berikut ini spesifikasi lengkapnya yang kami kutip dar GSM Arena:


Saat diluncurkan secara global, ada dua versi P30 Lite yang disediakan Huawei. Kebetulan saat ini yang kami uji cobakan adalah versi dengan kamera utama 24MP namun dengan RAM 6GB serta storage 128GB. Seperti apa performanya? Berikut ini hasil pengujian yang kami dapatkan:

 

Dari hasil benchmark yang kami dapatkan, smartphone ini masih sanggup menawarkan performa yang relatif mumpuni. Dari hasil benchmark, angkanya berada sedikit di bawah performa Oppo A5 2020 namun masih lebih mumpuni dari Samsung Galaxy A8. Sebagai gambaran, smartphone tersebut diperkuat oleh Qualcomm Snapdragn 665 dan Samsung Exynos 7885

Tentunya kalau dibandingkan dengan seri sebelumnya, yakni Huawei P20 Lite, peningkatan performanya cukup signifikan. Sebagai informasi, Huawei P20 Lite menggunakan prosesor Huawei Hisilicon Kirin 659.

Yang menarik, performa baterai smartphone ini sangat lumayan. Meski kapasitasnya relatif “kecil” untuk ukuran smartphone saat ini, yakni hanya 3.340mAh, namun dalam pengujian PC Mark Battery, ia berhasil mencatat pasokan energi hingga 13 jam 20 menit. Lalu bagaimana performanya saat bermain game?


Saat digunakan untuk bermain game “ringan” seperti Mobile Legend, smartphone ini tentu dapat menjalankannya dengan relatif lancar di setting “rata kanan”. Bermain game 3D berat seperti PUBG Mobile, setting maksimal yang bisa didapat adalah setting Graphics di HD, sementara framerate di opsi High. Tidak bisa lebih. Dengan setting itupun, game kadang terasa berat dan frame drop cukup terasa.

O ya. Smartphone ini menggunakan layar 60Hz. Itu terlihat saat bermain game Mega Man x Dive. Tingkat frame-rate bisa diset ke 60fps. Sebagai gambaran, game ini sendiri mendukung layar 120Hz. Asalkan smartphone yang digunakan sangat bertenaga, di menu tersebut akan ada opsi untuk memilih setting 120fps.


Yang menarik, setelah kami gunakan untuk bermain sekitar 3 jam baik bermain PUBG Mobile, Mobile Legends dan Rockman x Dive, dari kondisi 100 persen, bateari hanya berkurang sebanyak 37 persen. Saat bermain tersebut, handset juga tidak panas, cuma hangat-hangat kuku meski kami bermain tanpa menggunakan casing.


Kesimpulan
Meski bukanlah seri terbaru dari Huawei, namun P30 Lite masih merupakan smartphone yang sangat menarik untuk dimiliki. Desainnya elegan dan modern, performanya cukup lumayan untuk aplikasi-aplikasi masa kini, dan kameranya juga cukup mewah untuk smartphone di kelasnya.

Asalkan bukan digunakan untuk bermain game, performa Huawei P30 Lite masih dapat diandalkan untuk menopang aktivitas kita sehari-hari. Apalagi baterainya terbukti mampu bertahan untuk bekerja secara non stop setidaknya selama 13 jam. Intinya, apakah Huawei P30 Lite masih layak beli di 2020? Jawaban kami, masih. Apalagi saat ini harganya sudah sangat terjangkau.

Yang pasti, larangan pemerintah Amerika Serikat terhadap Huawei untuk memasang aplikasi dan layanan Google, belum berlaku di Huawei P30 series, termasuk P30 Lite. Jadi, aman!


Postingan Populer

Siap-siap. Manusia dan AI Akan Berebutan Listrik!

Morgan Stanley memperingatkan bahwa lonjakan besar kemampuan AI bisa terjadi pada paruh pertama 2026. Menurut laporan terbaru mereka, para eksekutif di laboratorium AI besar di AS sudah memberi sinyal bahwa kemajuan berikutnya bisa “mengejutkan” banyak pihak. Salah satu indikatornya datang dari model terbaru OpenAI, yakni GPT-5.4 Thinking yang disebut mencapai 83% pada benchmark GDPVal, level yang diklaim sudah menyamai pakar manusia dalam sejumlah tugas ekonomi. Namun masalah terbesar bukan lagi algoritma. Masalahnya listrik. Morgan Stanley memperkirakan, di AS saja, bisa jadi akan timbul defisit daya 9-18 gigawatt hingga 2028, atau sekitar 12-25% di bawah kebutuhan komputasi AI. Dengan kata lain, industri mungkin tahu cara membangun AI yang lebih pintar, tetapi belum tentu punya cukup energi untuk menjalankannya. Solusi sementara mulai terlihat agak absurd. Bekas fasilitas mining kripto diubah menjadi pusat komputasi AI, lengkap dengan turbin gas untuk memberi makan rak server. Morga...

Smartphone Baterai Terbesar Segera Dirilis? 13.000mAh Cukup?

Rumor terbaru berhembus bahwa Honor tengah menyiapkan smartphone dengan baterai yang hampir terdengar berlebihan. Perangkat yang disebut sebagai Honor X80 GT dikabarkan akan membawa baterai 13.080 mAh. Jika benar, kapasitas ini jauh melampaui standar smartphone modern yang biasanya hanya berada di kisaran 5.000 mAh. Secara teori, ini berarti pengguna bisa melupakan charger selama berhari-hari. Namun secara praktis, pertanyaannya sederhana: seberapa besar dan berat ponsel ini nantinya? Honor sebenarnya sudah bereksperimen dengan baterai besar pada beberapa perangkat sebelumnya yang mendekati 10.000 mAh. X80 GT tampaknya mencoba melangkah lebih jauh, seolah ingin memenangkan lomba angka spesifikasi yang semakin absurd. Bandingkan dengan flagship dari Apple atau Samsung yang masih bermain di kapasitas jauh lebih kecil. Namun pendekatan mereka juga menunjukkan realitas desain: baterai besar selalu datang dengan kompromi pada ketebalan, berat, dan ergonomi. Memang ada perangkat ekstrem sepe...

PC Semakin Terpuruk. Harga Mahal Jadi New Normal?

Firma riset pasar IDC memangkas proyeksi pasar PC global dan memperingatkan bahwa industri menghadapi periode sulit hingga setidaknya 2027. Menurut laporan terbaru IDC, pengiriman PC global diperkirakan turun 11,3% tahun ini, jauh lebih buruk dibanding proyeksi sebelumnya yang hanya memperkirakan penurunan 2,4%. Pasar tablet juga ikut melemah, dengan penurunan pengiriman sekitar 7,6%. Penyebab utamanya cukup klasik, kelangkaan memori dan gangguan rantai pasokan. Kenaikan harga komponen membuat produsen kesulitan memproduksi perangkat dalam skala besar sekaligus menjaga harga tetap kompetitif. Ironisnya, meski pengiriman turun, nilai pasar justru diperkirakan naik. IDC memperkirakan nilai pasar PC global bisa mencapai $274 miliar pada 2026, naik sekitar 1,6%, karena harga jual rata-rata perangkat terus meningkat. Dengan kata lain, industri mungkin akan menjual lebih sedikit PC, tetapi dengan harga lebih mahal. IDC juga memperingatkan bahwa masalah pasokan memori bisa bertahan hingga 202...

Hp Oppo Murah Ini Cuma 1 Jutaan

Oppo belum lama ini menggelar smartphone terbarunya ke pasaran Indonesia. Spesifikasinya mengagumkan, apalagi fitur kameranya. Ya, Oppo Reno 10x Zoom menawarkan kemampuan fotografi yang mumpuni, sekaligus performa perangkat yang hebat. Meski demikian, ada harga ada rupa. Smartphone tersebut dipasarkan dengan harga yang tidak murah, yakni Rp12,999 juta untuk versi dengan RAM 8GB dan storage 256GB. Mahal? Tentu saja tidak, jika melihat spesifikasi yang disediakan di dalamnya. Sayangnya, tidak semua pengguna mampu membeli smartphone Oppo dengan harga yang tergolong fantastis tersebut. Cukup banyak di antara kita yang ingin membeli hp Oppo murah yang harganya kalau bisa di bawah Rp1 juta. Kalau tidak ada pun, kalau bisa harganya masih Rp1 jutaan. Alias di bawah Rp2 juta. Nah, kalau sudah begitu, apa pilihan yang bisa kita dapatkan? Berikut ini pilihannya: Harga HP Oppo Murah di 2019: Untuk smartphone alias hp Oppo murah di harga 1 jutaan, dipastikan Anda sudah mendapatkan pe...

Prosesor Server AMD Laku Keras, Kapasitas Produksi Tak Memadai

Demam AI ternyata tidak hanya menguntungkan GPU. Permintaan CPU server juga melonjak tajam, bahkan melampaui perkiraan industri. Hal ini diakui langsung oleh CEO Lisa Su yang menyebut lonjakan permintaan prosesor server sebagai sesuatu yang “di luar ekspektasi”. Dalam konferensi Morgan Stanley, Su mengungkap bahwa pelanggan besar AMD kini menyadari satu hal penting, sistem AI tidak bisa hanya mengandalkan GPU. Infrastruktur AI tetap membutuhkan CPU dalam jumlah besar untuk menangani orkestrasi sistem, manajemen data, dan berbagai proses komputasi pendukung. Akibatnya, permintaan prosesor server seperti AMD EPYC meningkat drastis. Bahkan, menurut Su, banyak pelanggan yang sebelumnya salah menghitung kebutuhan CPU di dalam infrastruktur AI mereka. Situasi ini membuat rantai pasokan AMD mulai terasa ketat. Lonjakan permintaan dalam beberapa kuartal terakhir membuat kapasitas produksi sulit mengejar kebutuhan pasar. AMD kini bekerja sama dengan mitra manufaktur untuk menambah kapasitas dan...