Langsung ke konten utama

Review Asus ZenBook S UX391UA, Tipis dengan ErgoLift

Jelang akhir tahun, Asus tak henti-hentinya merilis notebook andalan mereka ke pasaran Indonesia. Baru saja mereka menghadirkan ZenBook Flip UX461, mereka pun merilis ZenBook UX331UN yang tipis namun dengan Nvidia graphics ataupun UX331UAL yang punya standar militer. Sekarang, versi baru lagi sudah tersedia.

Adalah ZenBook S UX391UA, notebook tipis terbaru Asus yang punya desain beda dengan yang sudah-sudah. Ya, notebook ini merupakan varian ZenBook pertama yang hadir dengan design hinge ErgoLift. Desain ini membuat bagian monitor, tepatnya di bagian belakang, sekaligus menjadi dudukan hingga membuat keyboard notebook terangkat dan menjadi lebih nyaman digunakan saat mengetik.


Sebenarnya, desain ErgoLift hinge ini sendiri bukan yang pertama dihadirkan oleh Asus pada perangkat notebook besutannya. Kalau Anda ingat, sekitar tahun 2017 lalu, Asus juga punya notebook premium untuk segmen korporat yakni ASUSPRO B9440. Meski ditujukan untuk korporat, tetapi notebook ini justru lebih cantik dan elegan dibanding ZenBook yang dirilis pada kisaran waktu yang bersamaan saat itu.



Nah, kali ini, produsen asal Taiwan tersebut ingin menghadirkan pula keindahan dan kemewahan B9440 ke segmen personal dengan ZenBook S UX391UA. Seperti apa produknya? Mari kita bahas.

Desain
Asus ZenBook S UX391UA merupakan notebook yang masuk dalam kategori ultrabook karena mengusung bodi yang sangat tipis. Ketebalan ultrabook ini hanya 1,29cm, membuatnya tampil sebagai salah satu ZenBook paling tipis yang pernah ada. Selain tipis, bodi ultrabook ini juga sangat ringkas bahkan dapat diselipkan ke dalam tas wanita dengan mudah. Selain tipis, notebook ini juga tentunya sangat ringan. Bobotnya hanya 1 kilogram saja.

Bagi Anda pekerja on-the-go yang sering bepergian, notebook yang satu ini bisa jadi sangat pas untuk Anda. Ia memiliki desain yang stylish dengan bodi berbalut metal yang sangat kokoh, membuatnya bisa diandalkan untuk dijadikan teman bekerja di manapun.

Lalu, apakah karena dia tipis dan ringan lalu notebook ini juga ringkih? Jangan salah. Meski memiliki bodi yang tipis dan ringkas, namun bukan berarti ia tidak tahan banting. Laptop ini sudah menggunakan desain  bodi khusus yang sudah tersertifikasi Military Grade MIL-STD 810G. Itu artinya, laptop ini memiliki bodi yang sangat kokoh dan berhasil melewati serangkaian pengujian ekstrem saat diproduksi.

Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya, ASUS ZenBook S UX391UA memang sudah tampil dengan desain stylish, ringan, ringkas, tipis, dan kokoh. Namun para teknisi ASUS tampaknya masih belum puas dengan semua itu dan berusaha menghadirkan sebuah laptop yang tetap nyaman digunakan kapanpun serta di manapun.



Beberapa yang menjadi tantangan bagi ASUS adalah menghadirkan pengalaman mengetik yang lebih baik, sirkulasi udara yang lebih lancar, serta performa audio kelas premium. Ketiga aspek tersebut pun dijawab oleh sebuah inovasi bernama ErgoLift Design. Coba Anda simak gambar di atas. Itulah yang disebut Asus sebagai ErgoLift. Bagian belakang notebook dibuat mengangkat, bertumpu pada layar monitor.

Dengan desain yang mengangkat tersebut, banyak kelebihan yang ditawarkan. Pertama, aliran udara di bagian bawah notebook akan lebih lancar dan sangat membantu pendinginan komponen-komponen yang terdapat di dalam body notebook yang tipis. Kedua, audio yang dihasilkan akan pancarkan ke arah bawah sebelum memantul kembali ke telinga kita. Ini memberikan tambahan resonansi suara sehingga audio yang dihasilkan terdengar lebih wah.

Ditambah dengan dukungan sistem audio bersertifikasi Harman Kardon dan SonicMaster Premium, ZenBook S UX391UA bisa menghasilakan kualitas suara premium. Dua speaker yang ada di ultrabook ini memiliki kemampuan untuk mereproduksi surround sound dengan kualitas suara sinematik yang sangat bagus. Suara yang dihasilkan juga memiliki tingkat distorsi yang rendah dan lebih jernih berkat penggunaan amplifier khusus.

ErgoLift tidak hanya sekadar membuat ultrabook ini menjadi lebih unik dan elegan ketika dipandang. Ia memiliki fungsi penting yaitu meingkatkan kenyamanan pengguna ketika mengetik. ASUS mengatakan 5,5 derajat merupakan sudut optimal untuk mengetik. Apalagi dengan dukungan keyboard ergonomis yang memiliki travelling distance 1,2mm dan telah dilengkapi dengan LED backlight. Mengetik di tempat gelap pun akan tetap nyaman ketika menggunakan ultrabook ini.



Jika layar ditutup, ia akan menjadi sebuah notebook yang tipis kembali. Sebagai gambaran, saking tipisnya notebook ini, sampai-sampai port audio 3,5 inci harus diletakkan di tempat yang paling tebal, yakni di sudut belakang layar, yang berfungsi menjadi penopang saat notebook dibuka.

Spesifikasi
Ketika melihat sebuah laptop yang sangat ringkas seperti ZenBook S UX391UA, beberapa dari Anda pasti akan menebak kalau laptop ini memiliki performa tidak sekencang laptop standar yang punya bodi lebih bongsor. Tapi nyatanya tidak. ZenBook S UX391UA memiliki performa layaknya laptop premium. Semua itu berkat komponen kelas premium yang ada di dalamnya.

ASUS ZenBook S UX391UA ditenagai oleh prosesor Intel Core i7-8550U yang hadir dengan konfigurasi 4 core 8 thread, dan memiliki kecepatan pemrosesan hingga 4.0GHz. Prosesor tersebut tidak hanya kencang, namun juga irit daya karena sudah menggunakan pemrosesan 14nm dan memiliki TDP 15 Watt.

Prosesor kencang tersebut juga hadir bersama dukungan RAM sebesar 16GB yang berjalan di frekuensi 2133MHz. Ditambah dengan penggunaan M.2 NMVe PCIe SSD sebesar 512GB, ultrabook ini dapat berjalan sangat kencang dan memiliki waktu booting hanya dalam hitungan detik. Berikut ini spesifikasi lengkap Asus ZenBook S UX391UA:



Bagi Anda yang suka menggunakan laptop di tempat umum, tentu Anda tidak ingin mengganggu orang lain di sekitar Anda. Namun kadang suara kipas laptop bisa menjadi sangat berisik apalagi ketika Anda membuka aplikasi berat. Untuk mengatasi hal tersebut, ZenBook S UX391UA sudah dilengkapi dengan kipas dan teknologi khusus yang membuat pengoperasian lebih senyap.

ASUS menghadirkan fitur Quiet Fan yang memungkinkan pengoperasian kipas menjadi lebih senyap. Untuk mengaktifkannya, cukup dengan mengakses fitur ini melalui Quick Launch di Taskbar dan pilih ikon Quiet Fan. Pilih opsi Quiet Fan ON untuk mengaktifkan fitur ini.

Baca juga:

Meski senyap, performa pendinginnya tidak perlu diragukan. Pendingin di ZenBook S UX391UA menggunakan sebuah kipas ultra tipis dengan impeller yang memiliki ketebalan hanya 0,3 milimeter. Kipas tersebut bisa menghasilkan aliran udara 13,4 persen lebih baik dari kipas biasa di ultrabook lainnya. Berkat aliran udara yang lebih baik, suhu di ZenBook S UX391UA bisa ditekan hingga 5 derajat Celcius lebih dingin.

Soal penggunan yang senyap, keyboard di ZenBook S UX391UA juga dirancang khusus agar tidak berisik saat digunakan. Dengan demikian, Anda tidak perlu khawatir mengganggu orang di sekitar ketika menggunakan ultrabook ini.

Fitur
Layar merupakan salah satu komponen penting namun cukup menantang untuk dihadirkan di sebuah ultrabook. Pasalnya, produsen ultrabook harus bisa menghadirkan layar dengan kualitas baik namun dengan bentuk yang tipis serta ringkas mengingat bodi ultrabook yang memiliki konsep serupa. Di sini ASUS kembali menghadirkan inovasinya.

Tidak hanya berhasil menghadirkan layar berkualitas tinggi, ZenBook S UX391UA juga memiliki bezel layar yang sangat tipis. Melalui teknologi NanoEdge Display, ASUS berhasil menghadirkan layar dengan bezel hanya 5,9 milimeter di ultrabook ini. Dengan demikian, ukuran layar di ZenBook S UX391UA bisa dimaksimalkan dan tetap bisa mempertahankan dimensi bodinya yang sangat ringkas.

Layar di ZenBook S UX391UA memiliki ukuran 13,3 inci dengan resolusi Full HD (1920x1080 pixel). Berkat teknologi NanoEdge Display, layar ultrabook ini memiliki rasio yang sangat besar, yaitu 85 persen terhadap bodinya. Bisa dikatakan kalau sebagian besar frame layarnya merupakan layar LED.



Bagi Anda yang berprofesi sebagai desainer, fotografer, atau videografer, ZenBook S UX391UA juga bisa digunakan sebagai perangkat penunjang utama karena layarnya memiliki kemampuan reproduksi warna yang akurat. Layar di ultrabook ini memiliki color gamut Adobe sRGB sebesar 100% dengan kerapatan pixel 331ppi untuk reproduksi detail gambar yang tinggi. Sudut pandang atau viewing angle-nya juga sangat lebar, yaitu mencapai 178 derajat. Dengan demikian, kualitas warna pada layar ultrabook ini akan tetap terjaga meski dilihat dari samping.

ASUS juga tidak berkompromi soal konektivitas di ZenBook S UX391UA kali ini. Meski tampil dengan bodi yang sangat ringkas, ultrabook ini sudah didukung dengan tiga port USB Type-C yang dua di antaranya merupakan port Thunderboilt 3. Port tersebut mendukung kecepatan transfer data sangat tinggi, yaitu hingga 40Gbps.

Melalui Thunderbolt 3, Anda bisa mengoneksikan berbagai aksesoris high-end seperti external graphic card dock, dan lain-lain. Port ini juga dapat berfungsi sebagai display output, sehingga ZenBook S UX391UA masih bisa dikoneksikan dengan monitor ekstra, serta proyektor jika diperlukan.

Anda juga tidak perlu khawatir karena ASUS sudah menyediakan dongle khusus di paket penjualan ZenBook S UX391UA. Terdapat dua dongle yang tersedia, yaitu USB Type-C to USB Type-A, serta USB Type-C to HDMI. Jadi, Anda tidak usah merogoh kocek dompet lagi untuk membeli dongle tersebut.

ASUS mengklaim laptop ini bisa bertahan selama 13,5 jam melalui pengujian internalnya. Sementara ketika kami uji melalui skenario penggunaan sehari-hari, ultrabook ini bisa bertahan hingga 7 jam. Skenario yang kami gunakan adalah mengatur tingkat kecerahan layar ke 50 persen, menyalakan mode battery saving di Windows 10, menyalakan Wi-Fi untuk terkoneksi ke internet, dan melakukan streaming YouTube sambil membuka dua dokumen Microsoft Office.



Daya tahan baterai tersebut memang tergolong sangat awet karena laptop standar biasanya hanya mampu bertahan sekitar 3 hingga 4 jam penggunaan saja. Jika skenario penggunaan Anda lebih berat yang membuat baterai menjadi lebih boros, Anda bisa mengisi daya laptop ini dengan mudah karena adapter charger-nya juga memiliki bentuk yang sangat ringkas dan mudah dibawa.

Kami pun merasa tidak kesulitan sama sekali saat menggunakan laptop ini di kedai kopi untuk bekerja. Ia bisa bertahan hingga pekerjaan kami selesai tanpa diisi ulang baterainya, padahal kami sudha berjaga-jaga membawa adapter charger-nya. Lalu, bagaimana dengan performanya?

Performa
Untuk mengetahui sejauh mana kinerja yang ditawarkan oleh notebook ultra tipis nan manis ini, kami menjalankan beberapa aplikasi benchmark populer seperti PCMark 10 untuk mengukur performa sistem secara keseluruhan, Cinebench untuk mengukur performa maksimum prosesor, 3DMark untuk mengetahui peforma grafis dan Unigine Heaven untuk performa gaming. Kami juga melakukan pengujian baterai dengan PCMark 8. Berikut ini hasilnya:








Kesimpulan
ASUS ZenBook S UX391UA bisa dikatakan sebagai laptop idaman untuk mereka yang aktif bergerak, seperti traveler serta pekerja on-the-go. Selain desain bodinya sangat elegan dan tidak kaku, ultrabook ini sangat ringkas dan ringan untuk dibawa bepergian. Bodinya yang sangat kokoh dan sudah mengantongi standarisasi militer juga merupakan nilai plus.

Dari sisi performa, ASUS tampak sangat menjaga kualitas performa di laptop ini melalui berbagai inovasinya seperti ErgoLift Design. Selain itu, ZenBook S UX391UA juga disokong oleh komponen kelas atas seperti prosesor Intel Core generasi ke-8, RAM 16GB, dan penyimpanan menggunakan M.2 NVMe PCIe SSD yang sangat kencang. Singkatnya, ultrabook ini sangat bisa diandalkan meski memiliki bentuk yang tipis, ringkas, dan ringan.

Dari sisi baterai, ketika diuji menggunakan PCMark 8, ultrabook ini bisa bertahan selama 3 jam 34 menit. Artinya, jika Anda menggunakan ultrabook ini dengan kemampuan penuh secara non stop, baterainya kemungkinan akan bertahan sekitar 3,5 jam. Daya tahan tersebut juga cukup bagus untuk ukuran sebuah laptop ultra tipis.

Postingan Populer

Apple Maps Hapus Wilayah Lebanon Selatan, Diduga Dukung Operasi Israel

Langkah kontroversial dilakukan Apple setelah pengguna menemukan bahwa sebagian besar label wilayah di Lebanon Selatan menghilang dari layanan Apple Maps. Hilangnya nama desa dan kota di kawasan tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Israel dan Hezbollah, memicu spekulasi bahwa ini bukan sekadar kesalahan teknis biasa. Berbeda dengan Apple Maps, platform lain seperti Google Maps masih menampilkan informasi geografis secara lengkap di wilayah yang sama. Ketimpangan ini memperkuat dugaan bahwa perubahan pada Apple Maps bukanlah fenomena global, melainkan keputusan spesifik yang berpotensi memiliki implikasi geopolitik. Dalam konteks konflik, peta digital bukan hanya alat navigasi, tetapi juga instrumen informasi strategis. Penghapusan label wilayah dapat mengurangi visibilitas suatu area, baik bagi masyarakat sipil, organisasi bantuan, maupun pihak luar yang mencoba memahami situasi di lapangan. Dalam skenario ekstrem, hal ini bisa dianggap sebagai bentuk “penghapusan dig...

Qualcomm Snapdragon X2 Elite Bagus, Tapi Harga Mahal

Momentum Windows on Arm kembali menguat seiring kesiapan generasi baru chipset dari Qualcomm, khususnya Snapdragon X2 Elite. Dengan performa yang diklaim kompetitif terhadap lini terbaru silikon Apple dan meningkatnya dukungan aplikasi native, platform ini mulai menunjukkan potensi keluar dari status “niche”. Secara teknis, fondasi memang semakin solid. Performa CPU dan efisiensi daya meningkat signifikan dibanding generasi sebelumnya, sementara ekosistem software mulai beradaptasi. Semakin banyak developer yang melihat Windows on Arm sebagai platform serius, bukan sekadar eksperimen terbatas dengan kompatibilitas parsial. Namun, di balik progres tersebut, tantangan struktural masih membayangi. Sejumlah laporan komunitas mengindikasikan bahwa produsen laptop (OEM) justru memposisikan perangkat berbasis Snapdragon X2 Elite di segmen premium. Strategi ini dinilai kontraproduktif, mengingat adopsi awal membutuhkan harga yang lebih agresif untuk membangun basis pengguna. Kasus peluncuran A...

Intel Core Ultra Series 3 Resmi Diluncurkan di Indonesia

Setelah debut global di ajang CES 2026, Intel resmi membawa prosesor terbarunya, Intel Core Ultra Series 3, ke pasar Indonesia. Kehadiran generasi ini langsung menempatkan Intel di pusat tren yang sedang naik daun, yakni AI PC.  Namun di balik narasi besar tersebut, pertanyaan utamanya tetap sama. Apakah ini lompatan nyata, atau sekadar evolusi yang dibungkus istilah baru? Secara arsitektural, Core Ultra Series 3 dibangun di atas proses Intel 18A dengan pendekatan SoC yang mengintegrasikan CPU, GPU, dan NPU dalam satu paket. Ini memungkinkan pemrosesan AI dilakukan langsung di perangkat tanpa ketergantungan cloud. Intel mengklaim NPU-nya mampu mencapai hingga 50 TOPS, angka yang secara teoritis cukup untuk menangani berbagai workload AI modern, mulai dari inferensi hingga generative tasks ringan. Di atas kertas, spesifikasinya terlihat menjanjikan. Varian tertinggi menawarkan hingga 16 core CPU dan GPU berbasis Intel Arc dengan 12 Xe-core. Intel mengklaim peningkatan performa multi...

Jangan Beli VGA Dulu. RTX 6000 Sedang Disiapkan

Rumor mengenai lini GPU generasi berikutnya dari Nvidia, yakni GeForce RTX 6000 series berbasis arsitektur Rubin, mulai bermunculan. Meski belum ada konfirmasi resmi, berbagai laporan menyebut arsitektur ini akan membawa peningkatan signifikan, terutama di sektor AI dan ray tracing. Salah satu poin utama dari rumor yang beredar adalah pendekatan pengembangan Rubin yang disebut berangkat dari GPU data center. Artinya, desain awalnya difokuskan untuk kebutuhan komputasi skala besar sebelum diadaptasi ke segmen gaming.  Strategi ini konsisten dengan arah Nvidia dalam beberapa generasi terakhir, di mana inovasi AI dan akselerasi komputasi diperkenalkan lebih dulu di segmen enterprise. Di sisi manufaktur, Rubin disebut akan menggunakan proses 3nm dari TSMC. Perpindahan ke node yang lebih kecil ini berpotensi meningkatkan efisiensi daya sekaligus memungkinkan jumlah transistor yang lebih besar. Dampaknya bisa terlihat pada peningkatan jumlah core, cache, hingga bandwidth memori yang lebi...

Review Asus ExpertBook P1403CVA. Laptop Bisnis Terjangkau untuk Jangka Panjang

Dalam beberapa bulan terakhir, industri laptop menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga komponen, terutama RAM dan SSD. Permintaan global terhadap memori dan penyimpanan meningkat seiring transformasi digital, cloud computing, serta tren kerja hybrid.  Situasi tersebut diperparah oleh ketidakstabilan rantai pasok, sehingga harga komponen menjadi fluktuatif. Dampaknya, banyak produsen laptop harus melakukan penyesuaian konfigurasi, bahkan di segmen premium sekalipun. Menariknya, kondisi tersebut justru mempercepat pertumbuhan pasar laptop bisnis. Banyak perusahaan dan profesional mulai beralih dari laptop consumer ke perangkat profesional yang dirancang lebih tahan lama.  Fokus tidak lagi pada spesifikasi tinggi di awal, melainkan efisiensi investasi dalam jangka panjang. Laptop bisnis menawarkan daya tahan, keamanan, serta fleksibilitas upgrade yang menjadi semakin penting. Kenaikan harga RAM dan SSD juga membuat konsep modular menjadi nilai utama. Laptop bisnis sepert...