Pasar smartphone global menghadapi tekanan besar akibat lonjakan harga komponen memori yang mendorong kenaikan harga perangkat dan mempersempit pilihan ponsel murah. Data IDC menunjukkan pengiriman smartphone dunia pada kuartal III 2026 mencapai 255,3 juta unit, turun 22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Omdia memperkirakan penurunan sebesar 20%, lebih dalam dibandingkan kontraksi 6% pada kuartal sebelumnya.
Menurut IDC, biaya memori telah meningkat sekitar 350% dibandingkan tahun lalu. Kenaikan tersebut, ditambah tekanan dari komponen lain, membuat produsen semakin sulit mempertahankan harga jual tanpa mengorbankan margin keuntungan. Dampaknya paling terasa pada segmen smartphone terjangkau, yang memiliki ruang lebih terbatas untuk menyerap kenaikan biaya produksi.
Direktur riset senior IDC untuk perangkat global, Nabila Popal, memperingatkan bahwa pasar belum tentu mencapai titik terendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan industri bukan sekadar perlambatan permintaan musiman, melainkan persoalan biaya yang berpotensi berlanjut selama pasokan komponen belum kembali stabil.

Di tengah situasi tersebut, Samsung dan Apple justru memperbesar pangsa pasar meskipun jumlah pengiriman perangkat mereka juga mengalami tekanan. Omdia memperkirakan kedua perusahaan menguasai gabungan 45% pasar smartphone global, sekitar delapan poin persentase lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya. Bisnis perangkat premium memberi keduanya ruang lebih besar untuk menghadapi kenaikan biaya, sementara produsen yang bergantung pada ponsel murah menghadapi tekanan lebih berat.
Namun, peningkatan pangsa pasar tidak otomatis berarti pertumbuhan penjualan. Ketika total pasar menyusut, produsen dapat memperoleh persentase pangsa yang lebih besar meskipun jumlah unit yang dikirim justru turun. Analis utama Omdia, Hayden Hou, menegaskan bahwa perubahan biaya komponen dan strategi masing-masing vendor sedang membentuk ulang persaingan industri. Menurutnya, pangsa pasar saja tidak cukup untuk menggambarkan kinerja perusahaan secara menyeluruh.
Omdia memperkirakan pengiriman smartphone global akan turun 12% sepanjang 2026, kemudian kembali menyusut 6% pada 2027. Konsultan tersebut juga memperkirakan kelangkaan memori belum akan mereda setidaknya hingga 2028. Peluncuran smartphone flagship pada kuartal IV dan promosi musiman dinilai belum cukup untuk mengimbangi tekanan pasokan yang terus berlangsung.
Untuk mempertahankan minat konsumen, produsen mulai mengandalkan skema cicilan, program tukar tambah, dan kerja sama dengan operator telekomunikasi. Sejumlah vendor juga dilaporkan beralih ke layar, sensor, dan modul frekuensi radio yang lebih murah demi mengimbangi kenaikan biaya memori. Strategi ini berpotensi membantu menjaga harga, tetapi dapat membuat konsumen membayar lebih mahal untuk perangkat dengan spesifikasi yang tidak meningkat sebanding.
Situasi tersebut menempatkan industri smartphone dalam dilema: menaikkan harga berisiko menekan permintaan, sedangkan mempertahankan harga dapat menggerus margin keuntungan. Jika biaya memori tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang, produsen kemungkinan harus semakin selektif menentukan spesifikasi, mengurangi eksposur pada segmen murah, atau mencari model penjualan alternatif. Bagi konsumen, konsekuensinya bisa berupa siklus penggantian ponsel yang lebih panjang dan pilihan perangkat terjangkau yang semakin terbatas.
