Ambisi China membangun GPU gaming mandiri kembali menghadapi kenyataan pahit. Lisuan Tech LX 7G100, yang sebelumnya dikaitkan dengan performa setara GeForce RTX 4060, justru hanya unggul tipis dari AMD Radeon RX 580 dalam pengujian independen PC Games Hardware (PCGH). GPU AMD tersebut sudah dirilis pada 2017.
Dalam indeks performa PCGH yang mencakup 14 game, LX 7G100 memperoleh 11,1 poin, sementara Radeon RX 580 mencapai 10,6 poin. Selisihnya hanya sekitar 5%. Bahkan GeForce RTX 2060 mencetak 17,2 poin atau sekitar 55% lebih tinggi. Radeon RX 6600 mencapai 20 poin, sedangkan GeForce RTX 5060 memperoleh 33 poin.
Hasil tersebut cukup kontras dengan spesifikasi LX 7G100. GPU ini membawa 12GB GDDR6, memory bus 192-bit, bandwidth 432GB/s, serta klaim performa FP32 hingga 24,6 TFLOPS. Chip tersebut menggunakan arsitektur TrueGPU dan dibuat dengan proses TSMC N6.

Masalah utama tampaknya bukan sekadar spesifikasi hardware. PCGH hanya dapat memasukkan 14 dari 20 game ke indeks utama. Ray tracing juga tidak tersedia karena LX 7G100 tidak memiliki dukungan hardware khusus, sementara persoalan Vulkan dan software turut membatasi kompatibilitas. Ini memperlihatkan bahwa membangun GPU kompetitif membutuhkan ekosistem driver dan software yang matang, bukan hanya angka TFLOPS tinggi.
Meski demikian, LX 7G100 tetap menunjukkan kemajuan dibandingkan GPU China generasi sebelumnya. PCGH menemukan performanya secara umum jauh lebih baik daripada Moore Threads MTT S80. Dalam Dota 2 pada 1440p, GPU tersebut bahkan mampu bersaing dengan Radeon RX 6600 dan Intel Arc A580.
Namun, posisi LX 7G100 tetap sulit disebut sebagai ancaman langsung bagi AMD dan Nvidia. GPU China ini memang berfungsi dan memiliki dukungan driver Windows yang cukup layak, tetapi performanya menunjukkan kesenjangan teknologi yang masih besar. Jika GPU baru membutuhkan sembilan tahun hanya untuk sedikit melampaui Radeon RX 580, perjalanan menuju produk yang benar-benar kompetitif masih panjang.
