China resmi menghentikan ekspor helium di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan domestik. Meski kontribusi China terhadap produksi helium global relatif kecil, keputusan ini tetap memicu perhatian industri semikonduktor.
Pasalnya, helium merupakan gas penting dalam berbagai tahapan manufaktur chip, mulai dari deposisi material, proses etsa, pendinginan wafer. Sistem pendingin mesin litografi ekstrem ultraviolet (EUV) juga sangat bergantung pada gas yang satu ini.
Langkah tersebut diambil ketika permintaan chip dunia terus meningkat akibat ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan atau AI. Pemerintah China disebut ingin memprioritaskan kebutuhan industri semikonduktor dalam negeri yang semakin strategis setelah pembatasan ekspor teknologi dari Amerika Serikat memaksa perusahaan lokal mempercepat pengembangan chip buatan sendiri.

Dengan menjaga pasokan helium tetap berada di dalam negeri, Beijing berupaya mengurangi risiko gangguan produksi di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat.
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), China hanya memproduksi sekitar tiga juta meter kubik helium atau sekitar 1,6 persen dari total produksi global pada 2026. Angka tersebut jauh di bawah Amerika Serikat yang memimpin dengan 81 juta meter kubik, disusul Qatar, Rusia, Aljazair, dan Kanada.
Artinya, larangan ekspor dari China kemungkinan tidak akan mengguncang pasokan helium dunia secara signifikan. Akan tetapi, berhentinya ekspor helum dari China tentu tetap berpotensi memperketat rantai pasok, terutama ketika permintaan chip sedang berada pada level tertinggi.
Pentingnya helium bagi industri semikonduktor sebelumnya juga disoroti CEO Intel, Lip-Bu Tan. Menurutnya, selain keterbatasan pasokan listrik, helium merupakan salah satu faktor yang sering diabaikan tetapi dapat menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan industri AI.
Tanpa pasokan helium yang stabil, proses produksi chip canggih dapat mengalami perlambatan karena gas tersebut menjadi bagian penting dalam pengoperasian fasilitas fabrikasi modern.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan industri semikonduktor kini tidak hanya bergantung pada kemampuan memproduksi chip, tetapi juga pada akses terhadap bahan baku strategis.
Di tengah ledakan permintaan AI, pasokan helium berpotensi menjadi salah satu faktor penentu stabilitas industri global. Jika semakin banyak negara mulai memprioritaskan kebutuhan domestiknya, tekanan terhadap rantai pasok semikonduktor dapat kembali meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

