Selama beberapa tahun terakhir AI digadang-gadang menjadi sebuah mesin baru yang mampu mengalahkan pasar saham. Namun pengujian selama 20 tahun justru menunjukkan kenyataan yang berlawanan.
Dari pengujian, sejumlah model AI dan large language model gagal menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan indeks pasar. Bot trading terlalu hati-hati ketika pasar naik tetapi berubah agresif saat pasar mengalami tekanan. Alih-alih menjadi investor jenius, AI justru sering salah membaca momentum.
Penelitian yang dikutip Wall Street Journal menguji berbagai strategi AI melewati krisis keuangan 2008, pandemi COVID-19, serta berbagai siklus pasar lainnya. Hasilnya menunjukkan bahwa keunggulan AI yang sering dipromosikan mulai menghilang ketika pengujian dilakukan dalam periode yang panjang dan kondisi pasar yang beragam.
Banyak riset sebelumnya dinilai terlalu optimistis karena hanya menggunakan data yang terbatas.
Masalah utama AI adalah pasar keuangan tidak pernah benar-benar stabil. Pola yang terlihat efektif saat pasar bullish dapat langsung runtuh ketika terjadi perang, pandemi, perubahan teknologi, atau tekanan ekonomi. AI memang sangat baik dalam mengenali pola, tetapi pasar saham sering bergerak karena faktor yang tidak dapat diprediksi dari data historis semata.
Temuan ini menjadi pukulan bagi anggapan bahwa model AI yang lebih besar otomatis menghasilkan keputusan investasi yang lebih baik. Model yang lebih canggih belum tentu mampu mengatasi data pasar yang penuh ketidakpastian.
Untuk itu, investor perlu lebih skeptis terhadap berbagai klaim yang menjanjikan keuntungan konsisten hanya dengan bantuan AI.
Tetapi jangan terlalu alergi, AI tetap memiliki manfaat bagi investor. Teknologi ini mampu menganalisis laporan keuangan, paparan publik perusahaan, dan data historis dengan sangat cepat. AI dapat membantu proses riset dan pengambilan keputusan, tetapi bukan alat yang mampu memprediksi masa depan.
Dan yang paling penting, berbeda dengan penasihat keuangan yang memiliki tanggung jawab profesional, algoritma tidak memiliki konsekuensi ketika rekomendasinya terbukti salah dan tidak bisa digugat secara hukum.


