Apple dikabarkan membuka kembali pintu kerja sama dengan Intel dalam
langkah yang bisa mengubah peta industri semikonduktor beberapa tahun ke
depan. Menurut analis Ming-Chi Kuo, keputusan Apple memakai proses
manufaktur Intel 18A-P bukan sekadar diversifikasi pasokan, tetapi
“kesempatan sekali dalam satu generasi” bagi Intel untuk membangun ulang
bisnis foundry-nya yang selama ini tertinggal dari TSMC.
Laporan
terbaru menyebut sekitar 80 persen pesanan Apple di Intel akan
digunakan untuk produksi chip iPhone A21 yang dijadwalkan hadir pada
2028. Sisanya diperkirakan untuk chip M7 versi dasar yang akan dipakai
pada lini Mac generasi berikutnya.
Distribusi tersebut dinilai mencerminkan komposisi penjualan perangkat Apple secara keseluruhan, di mana iPhone tetap menjadi tulang punggung bisnis perusahaan.

Di
balik kerja sama ini, ada realitas besar yang mulai membebani industri
chip global. Dominasi AI dan HPC membuat kapasitas manufaktur node
canggih TSMC semakin tersedot ke server AI dan akselerator komputasi
besar. Apple tampaknya mulai sadar bahwa terlalu bergantung pada satu
foundry menjadi risiko strategis jangka panjang.
Intel sendiri
sedang bertaruh besar pada node 18A-P berbasis RibbonFET dan PowerVia
untuk menarik pelanggan besar. Namun tantangan utamanya tetap sama,
yakni yield produksi. Intel disebut baru menargetkan stabilitas yield
sekitar 50–60 persen pada 2027, angka yang masih cukup agresif untuk
standar manufaktur chip modern.
Jika berhasil, kerja sama ini
bisa menjadi validasi terbesar bagi Intel Foundry Services. Namun jika
gagal memenuhi standar Apple yang terkenal brutal terhadap kualitas dan
efisiensi, proyek ini justru berpotensi mempertegas betapa sulitnya
mengejar TSMC di era AI dan advanced packaging modern.

