Aktivitas media sosial di Inggris mulai menunjukkan gejala “kelelahan digital”. Laporan terbaru dari Ofcom mengungkap penurunan tajam dalam partisipasi aktif pengguna, sekaligus meningkatnya kehati-hatian dalam berinteraksi online. Ini merupakan sebuah sinyal bahwa relasi manusia dengan platform digital mulai berubah secara fundamental.
Secara angka, persepsi positif terhadap internet ikut terkoreksi. Hanya 59% responden yang masih merasa manfaat online lebih besar daripada risikonya, turun drastis dari 72% tahun lalu. Meski penetrasi tetap tinggi, 9 dari 10 pengguna dewasa masih aktif di platform seperti WhatsApp, cara mereka menggunakan media sosial kini jauh lebih pasif.
Perubahan paling mencolok ada pada perilaku berbagi. Hanya sekitar separuh pengguna yang masih aktif memposting, berkomentar, atau berbagi konten, turun dari 61% pada 2024. Bahkan eksplorasi situs baru ikut menurun signifikan. Ini menunjukkan internet tidak lagi menjadi ruang eksplorasi bebas, melainkan lingkungan yang diperlakukan dengan lebih hati-hati, bahkan defensif.

Faktor utamanya bukan sekadar kejenuhan, tetapi risiko jangka panjang. Hampir setengah responden mengaku khawatir postingan mereka bisa berdampak di masa depan, mendorong pergeseran ke konten sementara seperti Stories di Instagram. Ini mencerminkan perubahan paradigma, dari ekspresi publik ke komunikasi yang lebih terkendali dan temporer.
Di sisi lain, lonjakan penggunaan AI memperumit lanskap digital. Lebih dari separuh orang dewasa kini menggunakan tools seperti ChatGPT, Microsoft Copilot, dan Google Gemini. Menariknya, sebagian mulai memperlakukan AI layaknya manusia, untuk curhat hingga mencari nasihat personal. Ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan indikasi pergeseran interaksi sosial.
Implikasinya meluas ke ranah kebijakan. Kekhawatiran terhadap dampak media sosial, terutama bagi anak-anak, mendorong wacana pembatasan usia di berbagai negara. Inggris sendiri tengah mempertimbangkan langkah serupa, mengikuti jejak Australia dan sejumlah yurisdiksi lain.
Kesimpulannya jelas: media sosial belum mati, tetapi cara manusia menggunakannya sedang berubah. Dari ruang ekspresi bebas menjadi ekosistem yang lebih penuh perhitungan, dan dalam beberapa kasus, mulai ditinggalkan secara perlahan.

