Militer AS kini mulai mengandalkan AI untuk mempercepat proses penentuan target serangan. Menurut laporan terbaru, United States Department of Defense mengklaim telah menyerang lebih dari 2.000 target di Iran hanya dalam empat hari. Tempo operasi yang sebelumnya hampir mustahil dicapai dengan proses militer tradisional.
Di balik percepatan itu ada sistem analitik militer dari Palantir, yakni Maven Smart System, yang mengolah data dari drone, satelit, dan berbagai sensor medan perang. Sistem ini dipadukan dengan model AI dari Anthropic seperti Claude untuk menyusun rekomendasi target secara real-time.
Perubahan utamanya ada pada kecepatan kill chain. Proses yang dulu membutuhkan analisis manusia berjam-jam kini dapat dipadatkan menjadi hitungan menit, atau bahkan detik.
Masalahnya, percepatan ini datang dengan konsekuensi yang jarang dibahas secara jujur. Ketika target dihasilkan dan diproses pada kecepatan mesin, pengawasan manusia cenderung menjadi formalitas. Kesalahan kecil dalam data atau interpretasi bisa berubah menjadi konsekuensi yang sangat besar di dunia nyata.
Perbandingan skalanya cukup mencolok. Dalam kampanye melawan ISIS, koalisi internasional membutuhkan sekitar enam bulan untuk menyerang 2.000 target. Kini angka yang sama bisa tercapai dalam beberapa hari.
AI sering dipromosikan sebagai alat efisiensi. Di medan perang, efisiensi itu berarti sesuatu yang jauh lebih sederhana. Lebih banyak target, lebih cepat dihancurkan. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini bisa mempercepat perang, tetapi apakah manusia masih benar-benar mengendalikan ritmenya.
Kalau sudah begini, menarik ditunggu sampai AI bisa serang sendiri Pentagon, mengambil alih dunia, melenyapkan umat manusia dan mengembalikannya pada hewan serta tumbuhan.


