Ponsel dengan keyboard fisik QWERTY tampaknya belum sepenuhnya punah. Setelah hampir dua dekade didominasi layar sentuh kapasitif ala iPhone, tanda-tanda kebangkitan perangkat dengan tombol fisik mulai kembali terlihat, menantang arus utama desain smartphone modern yang sejak lama dianggap final.
Sejak Apple memperkenalkan iPhone dan menyingkirkan keyboard fisik dari peta industri, pengguna dipaksa beradaptasi dengan papan ketik virtual. Meski semakin canggih, keyboard layar sentuh tetap memiliki keterbatasan, terutama bagi pengguna yang mengandalkan kecepatan dan presisi mengetik.
Tidak mengherankan jika dalam beberapa tahun terakhir muncul komunitas yang memodifikasi BlackBerry lawas dengan spesifikasi lebih modern, mulai dari prosesor lebih cepat, RAM lebih besar, baterai berkapasitas tinggi, hingga port USB-C. Fenomena ini tidak hanya didorong nostalgia, tetapi juga kekecewaan terhadap pengalaman mengetik di layar sentuh.

Di CES 2026, sinyal kebangkitan QWERTY semakin jelas. Clicks, perusahaan yang sebelumnya dikenal lewat aksesori keyboard untuk iPhone, mengumumkan rencana meluncurkan Communicator, sebuah ponsel QWERTY yang diposisikan sebagai “ponsel kedua”. Perangkat ini ditujukan untuk aktivitas pesan singkat, DM, Slack, dan komunikasi kerja lain yang menuntut intensitas mengetik tinggi.
Dengan banderol sekitar US$500, Communicator memang terlihat menarik, meski konsep ponsel kedua di harga tersebut jelas menyasar pasar yang sangat niche. Apalagi, Clicks belum memamerkan unit fungsional di pameran.
Clicks bukan satu-satunya pemain. Unihertz, produsen ponsel Android berukuran unik, juga mengisyaratkan kehadiran Titan 2 Elite, penerus ponsel bergaya BlackBerry Passport. Menariknya, desain Titan 2 Elite dan Communicator menunjukkan kemiripan mencolok, mulai dari sudut layar hingga posisi kamera, memunculkan dugaan bahwa keduanya berbagi basis desain atau pemasok yang sama.
Munculnya dua pengumuman QWERTY di awal tahun mengindikasikan potensi tren kecil, atau setidaknya upaya menguji pasar. Apakah ini awal kebangkitan nyata keyboard fisik, atau sekadar eksperimen nostalgia yang akan kembali menghilang, masih menjadi pertanyaan besar di industri smartphone.

