MediaTek dilaporkan mulai mengalihkan fokus strategisnya dari bisnis prosesor mobile menuju pengembangan AI ASIC dan silikon otomotif, seiring perubahan besar yang dipicu ledakan kebutuhan komputasi kecerdasan buatan.
Langkah ini mencerminkan pergeseran prioritas di industri semikonduktor, di mana AI semakin “memakan” kapasitas produksi dan sumber daya teknis yang sebelumnya didominasi oleh pasar smartphone.
Menurut laporan media Taiwan, CTEE, MediaTek telah memindahkan sebagian sumber daya internal, termasuk tenaga kerja, dari divisi system-on-chip (SoC) mobile ke apa yang disebut sebagai “blue ocean markets”, yakni pasar dengan potensi pertumbuhan tinggi dan tingkat persaingan yang relatif lebih rendah.
AI ASIC dan chip otomotif menjadi dua area utama yang kini digenjot, di tengah tekanan margin dan pertumbuhan yang melambat di pasar ponsel global.
Perusahaan sebenarnya bukan pemain baru di ranah AI khusus. MediaTek diketahui terlibat dalam pengembangan Google TPU v7 Ironwood, dengan merancang modul input-output yang menghubungkan prosesor dengan berbagai periferal.
Kini, MediaTek dikabarkan ingin memperdalam kerja sama tersebut untuk generasi TPU berikutnya, yang dijadwalkan masuk produksi massal pada kuartal ketiga 2026. Volume produksinya tidak main-main, dengan target jutaan unit per tahun.
Untuk mendukung ambisi tersebut, MediaTek dan Broadcom disebut telah meningkatkan wafer starts, sementara kompleksitas chip turut meningkat seiring migrasi ke proses 3nm TSMC. MediaTek bahkan membentuk tim ASIC khusus, yang konsekuensinya adalah penarikan talenta dari lini produk mobile.
Keunggulan utama yang diandalkan MediaTek di pasar ASIC adalah teknologi SerDes miliknya. Dengan solusi 112Gb/s dan rencana 224Gb/s, MediaTek menargetkan kebutuhan pusat data yang menuntut transmisi data berkecepatan sangat tinggi dan andal.
Secara finansial, perusahaan menargetkan pendapatan AI ASIC sebesar US$1 miliar pada 2026, dan beberapa miliar dolar pada 2027. Namun, pergeseran fokus ini memunculkan pertanyaan: sejauh mana bisnis mobile akan tetap menjadi prioritas, di tengah persaingan ketat dengan Qualcomm dan dominasi Apple. Dimensity masih kompetitif, tetapi ketika AI menjadi mesin pertumbuhan utama, posisi SoC mobile MediaTek berpotensi tidak lagi menjadi anak emas.


