Langsung ke konten utama

Samudra Selatan, Samudra Baru di Bumi

Saat ini, kita punya empat samudra yang mendominasi planet kita yang tercinta. Keempat samudra tersebut adalah Samudra Arktik, Atlantik, Hindia dan Pasifik. 

Namun untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad, kini ada samudra baru di peta. Dan samudera baru tersebut dinamakan dengan Samudra Selatan.


"Penemuan" samudera baru ini berdasarkan pengumuman National Geographic pada Selasa tanggal 8 Juni 2021. Mereka secara resmi mengakui badan air yang mengelilingi Antartika sebagai Samudra Selatan, dan menjadikannya samudra kelima di Bumi kita.


"Samudra Selatan telah lama diakui oleh para ilmuwan, tetapi karena tidak pernah ada kesepakatan internasional, sehingga keberadaannya tidak pernah secara resmi diakui secara resmi," kata Alex Tait, ahli geografi National Geographic Society, seperti dikutip dari laman National Geographic.


Lautan baru ini mengelilingi garis pantai Antartika hingga 60 derajat lintang selatan. Dan biasanya, semua samudra di dunia dipisahkan oleh benua yang menelungkupinya.

Berbeda dengan samudra-samudra lainnya, Samudra Selatan ini penamaannya didasarkan pada arus laut. Adapun luas daerah samudra baru ini sedikit lebih besar dari dua kali ukuran Amerika Serikat.

Baca juga:


Organisasi Hidrografi Internasional atau IHO sebenarnya telah mengakui keberadaan Samudra Selatan dalam pedomannya pada tahun 1937. Namun demikian, gelar samudera tersebut dicabut lagi pada tahun 1953.


Dewan Nama Geografis AS kemudian menggunakan nama Samudra Selatan untuk wilayah garis pantai Antartika sejak 1999. Dan akhirnya, Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS mengakuinya pada bulan Februari tahun ini.

Upaya konservasi di wilayah Samudra Selatan.
 
Sebagai informasi, saat ini ada ribuan spesies hidup di Samudra Selatan dan tidak ada di tempat lain. Ini menjadi salah satu alasan diresmikannya samudra baru tersebut. 

Di Samudera Selatan, kita bisa melihat penguin Kaisar (Aptenodytes forsteri), anjing laut Wendell (Leptonychotes weddellii) yang hanya ada di Samudra Selatan saja. 

Selain itu, wilayah ini juga menjadi tempat mencari makan hewan seperti paus bungkuk (Megaptera novaeangliae) setiap musim panas untuk menggemukkan tubuhnya sebelum menuju ke wilayah utara saat migrasi.

Wilayah Samudra Selatan

Awalnya bagian dari Samudra Pasifik

Selain itu, dampak penangkapan ikan di wilayah tersebut telah dirasakan selama beberapa dekade. Para ilmuwan saat ini menyuarakan keprihatinan tentang bagaimana perubahan iklim mengubah Samudra Selatan.


Bulan lalu, gunung es terbesar di dunia, yang lebih dari tiga kali ukuran Los Angeles, terlepas dari Antartika. Pada bulan Februari, gunung es lain yang lebih besar dari wilayah New York City pecah. Ini tentunya sangat berbahaya.

Pecahan gunung es tersebut bisa mengalir menjauh lalu mencair dan membuat air permukaan laut di seluruh bumi naik.

Sejak James Cook menjelajahi garis lintang selatan pada tahun 1770-an, Samudra Selatan tidak bisa dibedakan dengan wilayah samudra lainnya, karena tidak ada batasan yang jelas. Samudra Selatan ini pada mulanya adalah bagian dari Samudra Pasifik.

Postingan Populer

Review Lenovo ThinkPad E14 Gen 7. Laptop Bisnis di Era Efisiensi dan Mobilitas

Industri laptop bisnis tengah mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya performa dan skalabilitas menjadi tolok ukur utama, kini efisiensi daya, mobilitas, keamanan, dan keberlanjutan justru menjadi faktor penentu. Perusahaan semakin menuntut perangkat yang ringkas, tahan lama, mudah dikelola, namun tetap cukup bertenaga untuk produktivitas. Tren kerja hybrid juga turut mengubah prioritas desain laptop bisnis. Bobot ringan, daya tahan baterai memadai, konektivitas lengkap, serta fitur keamanan berlapis kini menjadi standar baru. Produsen pun berlomba menghadirkan perangkat yang tidak sekadar kuat di atas kertas, tetapi relevan dengan kebutuhan kerja modern. Lenovo melalui lini ThinkPad E-Series mencoba menjawab tantangan tersebut. Buktinya, ThinkPad E14 Gen 7   hadir sebagai opsi entry-level hingga menengah untuk profesional dan pelaku bisnis yang membutuhkan laptop tangguh, fleksibel, dan ekonomis tanpa meninggalkan DNA ThinkPad yang legendaris. Desain Lenovo ThinkPad E14 G...

2026, Nvidia Prioritaskan RTX 50 Series 8GB

Nvidia tampaknya mulai mengambil langkah defensif di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat, khususnya pada komponen memori. Laporan terbaru dari Tiongkok mengindikasikan bahwa perusahaan telah menyesuaikan rencana pasokan GPU GeForce RTX 50-series untuk 2026, dengan kembali memprioritaskan model berkapasitas VRAM lebih kecil, terutama varian 8GB.  Langkah ini muncul seiring melonjaknya harga chip memori yang mulai menggerus fleksibilitas harga di segmen GPU konsumen. Pada pertengahan 2025, kartu grafis dengan VRAM 8GB nyaris dianggap usang oleh pasar, terutama untuk kebutuhan gaming modern yang semakin rakus memori. Namun situasinya kini berubah. Dengan biaya memori berkapasitas besar kian mahal, konfigurasi VRAM tinggi justru mulai dipandang sebagai fitur premium yang sulit dijaga marginnya. Dalam konteks ini, 8GB kembali menjadi kompromi yang “masuk akal” bagi produsen, meski belum tentu bagi konsumen. Sumber industri Board Channels menyebutkan bahwa Nvidia dikabarka...

Hape Layar Sentuh Sudah Mentok. Keyboard Qwerty Hidup Kembali?

Ponsel dengan keyboard fisik QWERTY tampaknya belum sepenuhnya punah. Setelah hampir dua dekade didominasi layar sentuh kapasitif ala iPhone, tanda-tanda kebangkitan perangkat dengan tombol fisik mulai kembali terlihat, menantang arus utama desain smartphone modern yang sejak lama dianggap final. Sejak Apple memperkenalkan iPhone dan menyingkirkan keyboard fisik dari peta industri, pengguna dipaksa beradaptasi dengan papan ketik virtual. Meski semakin canggih, keyboard layar sentuh tetap memiliki keterbatasan, terutama bagi pengguna yang mengandalkan kecepatan dan presisi mengetik.  Tidak mengherankan jika dalam beberapa tahun terakhir muncul komunitas yang memodifikasi BlackBerry lawas dengan spesifikasi lebih modern, mulai dari prosesor lebih cepat, RAM lebih besar, baterai berkapasitas tinggi, hingga port USB-C. Fenomena ini tidak hanya didorong nostalgia, tetapi juga kekecewaan terhadap pengalaman mengetik di layar sentuh. Di CES 2026, sinyal kebangkitan QWERTY semakin jelas. C...

Hp Oppo Murah Ini Cuma 1 Jutaan

Oppo belum lama ini menggelar smartphone terbarunya ke pasaran Indonesia. Spesifikasinya mengagumkan, apalagi fitur kameranya. Ya, Oppo Reno 10x Zoom menawarkan kemampuan fotografi yang mumpuni, sekaligus performa perangkat yang hebat. Meski demikian, ada harga ada rupa. Smartphone tersebut dipasarkan dengan harga yang tidak murah, yakni Rp12,999 juta untuk versi dengan RAM 8GB dan storage 256GB. Mahal? Tentu saja tidak, jika melihat spesifikasi yang disediakan di dalamnya. Sayangnya, tidak semua pengguna mampu membeli smartphone Oppo dengan harga yang tergolong fantastis tersebut. Cukup banyak di antara kita yang ingin membeli hp Oppo murah yang harganya kalau bisa di bawah Rp1 juta. Kalau tidak ada pun, kalau bisa harganya masih Rp1 jutaan. Alias di bawah Rp2 juta. Nah, kalau sudah begitu, apa pilihan yang bisa kita dapatkan? Berikut ini pilihannya: Harga HP Oppo Murah di 2019: Untuk smartphone alias hp Oppo murah di harga 1 jutaan, dipastikan Anda sudah mendapatkan pe...

Gigabyte Incar Pasar Handheld Gaming PC

Gigabyte mulai memberi sinyal ketertarikan untuk masuk ke pasar handheld gaming yang semakin padat. Dalam wawancara dengan PCWorld di ajang CES 2026, CEO Gigabyte Eddie Lin mengungkapkan bahwa perusahaannya sedang mempertimbangkan pengembangan perangkat handheld gaming, namun dengan satu syarat utama: produk tersebut harus memiliki keunikan yang benar-benar membedakannya dari para pesaing. Ketertarikan ini sejatinya tidak mengejutkan. Pasar handheld gaming dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan pesat, didorong oleh kesuksesan Steam Deck dan diikuti oleh berbagai pemain besar seperti Asus, Lenovo, MSI, hingga sejumlah merek asal Tiongkok. Di tengah kondisi tersebut, Gigabyte tentu melihat peluang, sekaligus tantangan, untuk ikut ambil bagian. Menurut Eddie Lin, dari sisi teknis, membuat handheld gaming bukanlah perkara sulit. Ia menegaskan bahwa banyak produsen di Tiongkok sudah mampu memproduksi perangkat sejenis dengan relatif cepat. Tantangan sesungguhnya justru terletak...