Langsung ke konten utama

Laptop Chromebook Terbaik untuk Sambut Tahun Ajaran Baru!

Libur kenaikan kelas sudah dimulai, dan sebentar lagi anak-anak kita akan memasuki tahun ajaran baru. Menjelang tahun ajaran baru atau tren BTS (back to school), biasanya terjadi lonjakan peminatan terhadap perangkat pendukung sekolah.

Mulai dari alat tulis, tas, sepatu, seragam sampai ke perangkat pendukung seperti tablet sampai komputer. Namun melihat pandemi yang masih belum menunjukkan tanda-tanda musnah, tampaknya alat tulis, tas, sepatu dan seragam sekolah tidak terlalu signifikan. Beda halnya dengan laptop.


Di masa pandemi seperti saat ini, permintaan laptop justru semakin tinggi. Apalagi semua anak-anak kita sekolah dari rumah, memasuki kelasnya masing-masing, bertatap muka dengan guru-gurunya masing-masing, di waktu yang bersamaan dengan orang tuanya yang juga harus bekerja dari rumah.


Buat Anda yang sedang mencari laptop alternatif untuk anak, di pasaran ada banyak sekali laptop yang menggunakan sistem operasi Google yakni Chrome OS. Laptop dengan sistem operasi ini sangat bermanfaat, apalagi kalau sekolah anak-anak Anda juga sudah memanfaatkan berbagai platform Google untuk proses belajar-mengajar.


Ya. Layanan seperti Google Meet untuk proses tatap muka jarak jauh, Google Drive untuk menyimpan tugas-tugas sekolah, Google Form untuk menjawab soal-soal ujian, Google Slide, Docs dan Sheet untuk membuat laporan, sampai ke YouTube untuk mengunggah tugas atau menyimak penjelasan guru berbasis video, semua sudah banyak digunakan anak-anak kita.

Kalau sudah serba Google seperti itu, kenapa tidak menggunakan laptop berbasis Google saja agar lebih mudah? Selain cukup bermodalkan akun Gmail, sistem operasi Google Chrome OS juga relatif lebih ringan disbanding Windows dan tidak membutuhkan hardware yang terlalu mumpuni. Dan akhirnya, harganya pun relatif lebih terjangkau.

Di pasaran, kini ada banyak laptop Chrome OS atau yang dikenal dengan nama Chromebook dari berbagai brand dan model. Beberapa di bawah ini bisa menjadi pilihan buat Anda. Apa saja?

Lenovo 3 ChromeBook 11
Laptop Google Chrome yang satu ini menarik karena harganya yang sangat terjangkau yakni hanya Rp3.65 jutaan saja. Meski murah, ia diperkuat oleh prosesor Intel Celeron N4020 dual core up to 2.8GHz yang sangat hemat energi, yakni 6 Watt saja.

Layar laptop ini berukuran 11,6 inci dan menggunakan storage harddisk berkapasitas cukup lega yakni 160GB untuk ukuran Chrome OS. Adapun untuk menopang operasional prosesor dan multitasking, ada RAM sebesar 4GB yang terpasang di laptop.

Yang menarik, beberapa seller di e-commerce memberikan bonus tas kecil dan juga mouse buat Anda yang memilih laptop satu ini.

Asus Chromebook C423
Laptop yang satu ini menggunakan prosesor Intel Celeron N3350, sebuah prosesor dual core berkecepatan hingga 2,4GHz. Di e-commerce, ia dijual mulai dari Rp3,8 jutaan.

Yang menarik, laptop ini punya layar 14 inci resolusi HD dan anti-glare. Ini tentunya cocok buat anak-anak yang sudah lebih besar. Misalnya kelas 5 SD ke atas sampai SMP untuk pembelajaran jarak jauh. Apalagi kamera web laptop ini juga resolusinya sudah HD 720p.

Untuk menyimpan sistem operasi dan tugas-tugas secara offline, storage-nya pun sudah tidak lagi menggunakan harddisk, melainkan 64GB + 64GB eMMC sehingga lebih cepat loading-nya disbanding harddisk.

HP Chromebook 14
Laptop yang satu ini sedikit lebih mahal, yakni Rp4 jutaan. Akan tetapi, ia punya hardware yang juga lebih mumpuni. Sebut saja, prosesornya sudah quad core Pentium Silver N5000 berkecepatan hingga 2,7GHz.  

Ia juga sudah menggunakan layar 14" HD anti glare dengan micro-edge sehingga layar terasa lebih luas dan nyaman digunakan. Storage-nya pun lebih cepat dengan 64GB+64GB eMMC yang selain lebih cepat, juga lebih aman terhadap guncangan atau benturan.

Yang menarik, ia punya dua port USB Type-C yang mendukung USB Power Delivery untuk charging dan DisplayPort untuk menghubungkan ke layar monitor eksternal.


Baca juga:


Asus Chromebook Flip C214
Buat Anda yang ingin lebih dari sekadar laptop, Anda bisa membelikan anak Anda laptop Asus yang satu ini. Ya, sesuai namanya Chromebook Flip, laptop yang dijual di harga kisaran Rp4.7 jutaan ini bisa dilipat sehingga menjadi tablet Chrome OS.

Apalagi dukungan Google Play yang sudah terintegrasi, anak Anda akan menjadi lebih puas belajar sekaligus bermain karena sudah bisa menginstalasikan aplikasi Android di sana.

Dari sisi spesifikasi, ia diperkuat prosesor Intel Celeron N4020, RAM 4GB, storage eMMC 32GB di layar sentuh 11,6 inci resolusi HD. Jangan khawatir, ia juga sudah mendukung US military grade sehingga relatif lebih tahan terhadap guncangan, benturan yang mungkin terjadi pada laptop anak Anda.

Acer Chromebook Spin 511
Laptop yang satu ini ditujukan buat anak-anak Anda yang gemar multimedia. Selain mendukung layar lipat 11,6 inci yang bisa disentuh, layarnya pun punya kualitas gambar yang cukup baik yakni resolusi HD dengan panel IPS.

Prosesornya memang sama seperti laptop Google Chrome dari Asus dan Lenovo sebelumnya, yakni Celeron N4020. Meski demikian, Acer menyematkan grafis AMD Radeon R4 yang lebih bertenaga.

Spesifikasi lainnya kurang lebih sama, yakni RAM 4GB, storage 32GB eMMC dan baterai Lithium-Polymer 3-cell yang bisa bertahan hingga 10 jam. Namun kompensasi untuk grafis sedikit lebih bertenaga tersebut, laptop lipat ini dipasarkan di harga Rp6 juta.


Bagaimana? Menarik bukan. Sebagai informasi, laptop-laptop tersebut tersedia di e-commerce seperti Tokopedia, BliBli, Lazada dan lain-lain. Adapun harga yang kami cantumkan adalah per 28 Juni 2021.

Pilih yang mana? Mau yang murah meriah (Lenovo 3 Chromebook 11), layar 14 inci (Asus Chromebook C423), prosesor cepat (HP Chromebook 14), layar lipat 11 inci (Asus Chromebook C214) atau latop Chrome OS dengan grafik yang lebih powerful (Acer Chromebook Spin 511)? Silakan sesuaikan dengan anggaran dan kebutuhan masing-masing. 

Postingan Populer

Download Windows 10 ISO versi Lite Alias Ringan

Anda kesal karena laptop atau PC desktop Anda lemot padahal punya spek yang tidak jelek? Jangan dulu membuang laptop atau upgrade komponen PC desktop tersebut. Siapa tau yang membuatnya berat adalah sistem operasi Windows 10-nya yang kegemukan. Selain format dan install ulang, ada cara lain yang lebih efektif dalam membuat komputer kita bekerja seperti layaknya baru beli. Caranya adalah download Windows 10 ISO versi ringan. Lho, apa bedanya? Kalau kita memilih untuk download Windows 10 ISO versi ringan dan instalasikan di PC kita, maka fitur-fitur, fungsi atau aplikasi yang jarang digunakan, sudah ditiadakan. Selain lebih hemat ruang di harddisk, dibuangnya fitur-fitur yang tidak berguna tersebut akan membuat PC atau laptop spek rendah pun bisa menjalankan Windows 10 dengan lancar. Download Windows 10 Terbaru October 2020 Update Lalu, apa saja yang ada di Windows 10 versi Lite alias versi Ringan tersebut? Nah ini dia: Windows 10 SuperLite Compact (Gaming Edition) x64 – ...

Diborong Industri AI, Gamers Tidak Kebagian RTX 5090

Mimpi buruk para gamers dan perakit PC kembali berulang. Foto-foto yang beredar dari HKEPC memperlihatkan pallet berisi puluhan boks GeForce RTX 5090 versi ritel dibongkar langsung di fasilitas perakitan server AI, bukan di toko perakit PC gaming rumahan.  Kartu-kartu ini dicabut dari kemasan konsumen dan ditanam ke rak multi-GPU untuk beban kerja AI. Yang mencolok, perusahaan ini tidak memilih GPU profesional seperti RTX PRO 6000 atau akselerator datacenter yang memang dirancang untuk kebutuhan tersebut, meski harganya jauh lebih mahal. Mereka justru memborong unit ritel yang seharusnya jatah gamer, sebuah pilihan yang secara langsung memangkas pasokan global dan mendorong harga jauh di atas MSRP resmi 1.999 dolar AS.  Di berbagai marketplace, RTX 5090 kini dibanderol hingga 5.000 dolar AS atau sekitar Rp88 juta, lebih dari dua kali lipat harga rilis. Polanya mengingatkan pada era cryptomining beberapa tahun lalu, saat penambang menghabiskan stok GPU ritel hingga gamer kesuli...

AI Bisa Hasilkan 617 Juta Ton Limbah Elektronik hingga 2050

Ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) tidak hanya meningkatkan kebutuhan terhadap chip dan pusat data, tetapi juga berpotensi menciptakan persoalan lingkungan baru. Laporan Basel Action Network (BAN) memperkirakan peralatan terkait AI yang sudah tidak digunakan dapat menghasilkan antara 395 juta hingga 617 juta ton limbah elektronik (e-waste) pada 2025–2050. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 23 juta kontainer kargo berukuran 40 kaki. Jika seluruh kontainer itu disusun memanjang, panjangnya diperkirakan cukup untuk mengelilingi Bumi sekitar enam kali. Perhitungan BAN juga mencoba melihat persoalan e-waste AI secara lebih luas. Estimasi sebelumnya cenderung berfokus pada server dan GPU, sementara BAN memasukkan berbagai infrastruktur pendukung pusat data. Komponennya mencakup perangkat distribusi listrik, sistem pendingin, sumber daya cadangan, hingga perangkat jaringan. Pendekatan tersebut penting karena perangkat AI tidak berdiri sendiri. Setiap pusat data membutuhkan infrastruk...

Mengapa Hape Second Makin Laris?

Pasar smartphone refurbished dan bekas menunjukkan pertumbuhan yang semakin kuat. Nilai pasar global diperkirakan mencapai US$34,8 miliar pada 2026 dan berpotensi meningkat menjadi US$66 miliar pada 2035, dengan pertumbuhan tahunan gabungan 7,3 persen.  Tren ini didorong oleh harga yang lebih terjangkau, kualitas perangkat refurbished yang membaik, serta meningkatnya kesadaran terhadap isu limbah elektronik. Salah satu daya tarik terbesar adalah selisih harga. Konsumen dapat memperoleh smartphone flagship dengan harga lebih rendah dibandingkan unit baru. Pada 2023, sekitar 70 persen pembeli disebut lebih memilih perangkat refurbished dibandingkan smartphone baru kelas pemula karena menawarkan fitur lebih baik dengan harga yang lebih rendah. Harga jual rata-rata perangkat refurbished juga turun 12 persen antara 2022 dan 2023 Namun, harga murah tidak otomatis berarti pilihan lebih aman. Kesehatan baterai, garansi, dan kondisi perangkat masih menjadi kekhawatiran utama.  Data...

Review Asus ExpertBook B3 B3404CVA. Laptop Kerja Fleksibel untuk Pendukung Bisnis

Industri laptop bisnis sedang mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Jika dulu perusahaan hanya mencari perangkat yang “cukup bisa dipakai”, kini standar berubah menjadi efisiensi, keamanan, dan daya tahan jangka panjang. Tekanan untuk bekerja hybrid, meningkatnya ancaman siber, serta kebutuhan multitasking membuat laptop bisnis harus lebih dari sekadar alat kerja. Ia harus menjadi fondasi produktivitas. Di sisi lain, tidak semua perusahaan siap mengalokasikan budget untuk perangkat flagship. Di sinilah segmen laptop bisnis menengah menjadi menarik. Pasalnya, laptop bisnis kelas menengah menawarkan keseimbangan antara harga, fitur, dan performa. Namun, kompromi tentunya selalu ada dibanding seri flagship, dan di sinilah evaluasi kritis menjadi penting. Sebagai contoh, Asus mencoba mengisi celah segmen laptop bisnis menengah lewat Asus ExpertBook B3 B3404CVA . Laptop bisnis ini ditujukan untuk perusahaan yang membutuhkan perangkat kerja solid dengan fitur enterprise, tetapi tetap r...