AMD kembali menyerang Apple melalui kampanye pemasaran terbarunya dengan menyoroti keterbatasan kemampuan gaming pada MacBook Neo. Dalam materi promosi bertajuk Unleash Your Potential with Ryzen AI Processors, AMD mengklaim laptop terbaru Apple tersebut hanya mampu menjalankan lima dari 20 game PC populer secara native.
Sebaliknya, sebuah laptop Windows berbasis Ryzen 5 220 disebut mampu menjalankan seluruh judul yang diuji.
AMD menggunakan perbandingan tersebut untuk menegaskan bahwa ekosistem Windows masih menjadi platform utama bagi gamer PC, sementara Apple masih menghadapi keterbatasan kompatibilitas game yang cukup besar.

Daftar game yang ditampilkan mencakup sejumlah judul modern seperti Elden Ring Nightreign, Battlefield 6, Dune Awakening, Borderlands 4, hingga Kingdom Come Deliverance 2. Meskipun tidak semuanya merupakan game paling populer di pasar, daftar tersebut menunjukkan bahwa dukungan native game AAA pada macOS masih jauh tertinggal dibandingkan Windows.
Di sisi lain, MacBook Neo memang tidak pernah diposisikan sebagai laptop gaming. Perangkat ini dirancang sebagai laptop tipis dengan fokus pada efisiensi daya, mobilitas, dan produktivitas harian. Mengandalkan prosesor berbasis arsitektur mobile, MacBook Neo lebih ditujukan untuk pekerjaan ringan seperti browsing, dokumen, konferensi video, dan konsumsi konten.
AMD memanfaatkan kondisi tersebut untuk membandingkannya dengan HP OmniBook X Flip yang menggunakan Ryzen 5 220. Meski GPU Radeon 740M yang digunakan juga bukan solusi gaming kelas atas, laptop tersebut setidaknya masih mampu menjalankan berbagai game PC modern dengan pengaturan grafis rendah. Dalam sejumlah game esports, performanya bahkan masih cukup memadai.
Kampanye AMD ini memperlihatkan satu hal yang sudah lama menjadi kelemahan Apple di pasar komputer pribadi. Meskipun Apple Silicon menawarkan efisiensi dan performa yang tinggi untuk produktivitas, ekosistem gaming PC masih didominasi Windows. Selama dukungan game native di macOS belum berkembang secara signifikan, laptop Apple akan tetap sulit bersaing di segmen gaming, bahkan pada kelas entry-level sekalipun.

