Apple dikabarkan melobi pemerintahan Donald Trump agar mendapatkan izin membeli chip memori dari produsen China, CXMT. Langkah ini menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi Apple akibat lonjakan harga DRAM dan NAND yang dipicu ledakan permintaan AI di pusat data global.
Menurut laporan Financial Times, Apple telah menghubungi Departemen Perdagangan AS dan sejumlah pejabat pemerintah untuk meminta pengecualian khusus.
CXMT sendiri masih masuk daftar hitam Pentagon karena dugaan keterkaitan dengan militer China, sehingga upaya Apple ini membawa risiko politik yang cukup besar.
Tekanan biaya memori kini menjadi masalah serius bagi Apple. CEO Tim Cook sebelumnya mengakui bahwa kenaikan harga memori saat ini merupakan salah satu yang terburuk selama lebih dari 40 tahun kariernya. Kondisi tersebut bahkan mendorong Apple menaikkan harga sejumlah produk Mac dan iPad.
Harga LPDDR5X dilaporkan melonjak hampir tiga kali lipat sejak 2025. Akibatnya, biaya memori dan penyimpanan yang sebelumnya hanya menyumbang sekitar 9 persen dari biaya produksi iPhone kini diperkirakan dapat mencapai 27 persen pada iPhone generasi berikutnya. Situasi ini membuat Apple semakin sulit mempertahankan margin keuntungan tanpa menaikkan harga produk.
CXMT menjadi alternatif menarik karena tengah memperluas kapasitas produksi secara agresif. Jika pemerintah AS menyetujui permintaan Apple, produsen memori China berpotensi kembali masuk ke rantai pasok perusahaan asal Cupertino tersebut.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa krisis memori akibat AI mulai mengubah peta industri semikonduktor global. Apple terpaksa mencari solusi di luar pemasok tradisionalnya yang umumnya berasal dari Korea Selatan dan Amerika Serikat.


