AMD kembali menghadapi ancaman yang dapat mengganggu daya saing kartu grafis Radeon di pasar konsumen. Laporan dari forum rantai pasok Board Channels menyebutkan bahwa AMD kemungkinan akan meminta mitra manufakturnya menaikkan harga GPU Radeon dan paket memori VRAM sebesar 10 hingga 15 persen mulai Juli.
Meski belum dikonfirmasi secara resmi, rumor tersebut muncul di tengah tekanan pasokan memori yang semakin serius.
Masalah utamanya berasal dari GDDR6, jenis memori yang digunakan oleh sebagian besar kartu grafis Radeon konsumen termasuk seri Radeon RX 9000. Harga GDDR6 dilaporkan melonjak hampir tiga kali lipat sejak akhir 2025. Penyebabnya bukan karena industri AI menggunakan GDDR6 secara langsung, melainkan karena produsen memori lebih memprioritaskan produksi HBM yang digunakan oleh akselerator AI bernilai tinggi.
Lonjakan permintaan AI membuat produsen seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron mengalihkan kapasitas produksi ke HBM yang menawarkan margin keuntungan jauh lebih besar. Akibatnya, kapasitas untuk GDDR6 semakin terbatas dan biaya produksi kartu grafis konsumen ikut meningkat. Situasi ini memperlihatkan bahwa ledakan AI kini mulai memberikan dampak nyata terhadap pasar gaming.
Jika kenaikan harga benar terjadi, seri Radeon RX 9060 XT, RX 9070, RX 9070 XT hingga calon RX 9080 berpotensi mengalami penyesuaian harga. Kenaikan 10 hingga 15 persen dapat menambah sekitar 50 hingga 75 dolar AS pada kartu grafis kelas menengah.
Masalahnya, Nvidia sejauh ini belum dilaporkan mengeluarkan instruksi serupa kepada mitra produksinya sehingga AMD berisiko kehilangan salah satu keunggulan terbesarnya yaitu value for money.
Bagi konsumen, situasi ini menjadi peringatan bahwa harga GPU kemungkinan tidak akan membaik dalam waktu dekat. Selama permintaan infrastruktur AI terus meningkat dan kapasitas produksi memori lebih difokuskan ke HBM, harga kartu grafis gaming berpotensi tetap tinggi. Jika berencana membeli Radeon RX 9000 dalam waktu dekat, menunggu penurunan harga mungkin bukan lagi strategi yang menguntungkan.


