Momentum Windows on Arm kembali menguat seiring kesiapan generasi baru chipset dari Qualcomm, khususnya Snapdragon X2 Elite. Dengan performa yang diklaim kompetitif terhadap lini terbaru silikon Apple dan meningkatnya dukungan aplikasi native, platform ini mulai menunjukkan potensi keluar dari status “niche”.
Secara teknis, fondasi memang semakin solid. Performa CPU dan efisiensi daya meningkat signifikan dibanding generasi sebelumnya, sementara ekosistem software mulai beradaptasi. Semakin banyak developer yang melihat Windows on Arm sebagai platform serius, bukan sekadar eksperimen terbatas dengan kompatibilitas parsial.
Namun, di balik progres tersebut, tantangan struktural masih membayangi. Sejumlah laporan komunitas mengindikasikan bahwa produsen laptop (OEM) justru memposisikan perangkat berbasis Snapdragon X2 Elite di segmen premium. Strategi ini dinilai kontraproduktif, mengingat adopsi awal membutuhkan harga yang lebih agresif untuk membangun basis pengguna.

Kasus peluncuran ASUS Zenbook A16 menjadi contoh yang cukup disorot. Perangkat tersebut dirilis dengan harga tinggi dan bahkan mengalami kenaikan setelah review awal beredar. Pendekatan seperti ini berpotensi memperlambat penetrasi pasar, terutama ketika ekosistem aplikasi masih dalam tahap transisi.
Di sisi lain, Qualcomm juga tidak lepas dari kritik. Sebagai satu-satunya pemain dominan di segmen ini, perusahaan dinilai menetapkan harga chipset yang relatif tinggi sejak awal. Alih-alih mendorong adopsi melalui subsidi atau strategi penetrasi pasar, pendekatan premium justru membuat perangkat berbasis Arm sulit bersaing secara langsung.
Kondisi ini menciptakan siklus yang sulit diputus. Tanpa basis pengguna yang besar, developer enggan berinvestasi. Tanpa dukungan aplikasi yang luas, konsumen ragu untuk beralih. Sementara itu, Apple tetap berada di posisi kuat dengan ekosistem yang matang dan integrasi hardware-software yang lebih stabil.
Dengan demikian, meskipun Windows on Arm kini berada di titik paling siap secara teknis, keberhasilan komersialnya masih sangat bergantung pada strategi harga dan konsistensi eksekusi industri. Tanpa koreksi di area tersebut, momentum yang ada berisiko kembali stagnan.

