Team RRQ kembali menegaskan perannya dalam pengembangan talenta melalui keterlibatan di H3RO Esports 6.0 bersama Tri Indonesia. Program ini tidak lagi sekadar turnamen komunitas, melainkan mulai berfungsi sebagai pipeline terstruktur menuju level profesional.
Sepanjang pelaksanaannya, H3RO Esports telah menjaring puluhan ribu pemain dari berbagai daerah. Pada edisi 6.0 saja, tercatat 2.786 rookie terverifikasi ikut serta. Namun angka besar ini hanya menjadi pintu masuk dari proses seleksi yang jauh lebih ketat, mulai dari fase kompetisi awal hingga evaluasi lanjutan oleh tim profesional seperti RRQ dan HFX.
Pendekatan seleksi yang digunakan juga semakin kompleks. Selain menilai kemampuan mekanik, proses ini mencakup aspek kognitif, daya tahan, hingga kesiapan mental pemain. RRQ bahkan memanfaatkan pendekatan berbasis data melalui CoachGPT yang dibangun di atas ChatGPT untuk memperkaya analisis performa. Ini menunjukkan bahwa proses scouting esports kini bergerak ke arah yang lebih terukur dan sistematis, bukan sekadar observasi subjektif.

Pada tahap akhir, hanya segelintir peserta yang berhasil lolos ke lingkungan profesional. Mereka menjalani scrimmage intensif, psikotes, hingga pelatihan langsung di gaming house. Di fase ini, perbedaan antara pemain berbakat dan pemain yang siap berkompetisi di level tinggi menjadi sangat jelas.
Dampak dari ekosistem ini mulai terlihat. Beberapa alumni H3RO telah tampil di level nasional hingga internasional, termasuk di ajang IESF World Esports Championship. Hal ini memperkuat argumen bahwa Indonesia memiliki basis talenta yang kompetitif, selama tersedia jalur pembinaan yang konsisten.
Kolaborasi lintas pihak, termasuk PBESI, AVGI, serta platform Garudaku, turut memperkuat fondasi ekosistem. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga keberlanjutan program dan memastikan standar pembinaan tidak menurun seiring skala yang membesar.
Penutupan H3RO Esports 6.0 melalui Scrimmage Showcase yang ditonton jutaan orang menegaskan besarnya minat publik. Namun di balik angka tersebut, pertanyaan yang lebih penting adalah konsistensi: apakah inisiatif seperti ini bisa terus menghasilkan talenta siap pakai, bukan sekadar euforia sesaat.

