Qualcomm mulai memposisikan 6G bukan sekadar evolusi jaringan, melainkan fondasi bagi era baru berbasis AI yang mereka sebut “agent economy”. Dalam ajang Mobile World Congress, CEO Cristiano Amon menyatakan bahwa masa depan perangkat akan bergantung pada komunikasi antar AI. Bukan lagi sekadar interaksi manusia.
Menurut Qualcomm, 6G akan memungkinkan berbagai perangkat, mulai dari smartphone hingga kacamata pintar, untuk saling “berbicara” melalui agen AI yang bekerja di latar belakang. CFO sekaligus COO Akash Palkhiwala bahkan menyebut jaringan generasi berikutnya ini sebagai “AI-native wireless network” pertama, di mana trafik utama bukan lagi video atau media sosial, melainkan komunikasi antar agen digital.
Perubahan ini diklaim akan menggeser paradigma dari “app economy” ke “agent economy”, di mana satu asisten AI menangani berbagai kebutuhan pengguna. Mulai dari memesan tiket hingga transportasi, tanpa perlu berpindah aplikasi.

Namun narasi ini juga menimbulkan pertanyaan kritis. Apakah 6G benar-benar kebutuhan mendesak, atau sekadar upaya industri untuk menciptakan siklus upgrade berikutnya setelah 5G yang adopsinya sendiri belum merata secara global?
Qualcomm menargetkan uji coba awal sekitar Olimpiade Los Angeles 2028, dengan implementasi lebih luas pada 2029. Artinya, teknologi ini masih jauh dari realisasi massal, sementara banyak negara bahkan belum sepenuhnya memanfaatkan 5G.
Selain itu, konsep “agent traffic” yang mendominasi jaringan membuka isu baru yakni ketergantungan pada AI, privasi data, dan kontrol pengguna. Jika semua aktivitas dikelola oleh satu agen digital yang “mengetahui segalanya”, maka pertanyaannya bukan lagi soal kecepatan jaringan, tetapi siapa yang mengendalikan ekosistem tersebut.
Dengan kata lain, 6G mungkin bukan sekadar upgrade teknologi, melainkan perubahan fundamental tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan perangkat, dan seberapa besar kontrol yang rela mereka lepaskan ke AI.

