Lonjakan harga memori dalam beberapa bulan terakhir mulai mengguncang industri elektronik konsumen, termasuk pasar smartphone global. Permintaan besar dari pusat data AI membuat produsen chip memprioritaskan segmen dengan margin tinggi, sehingga biaya komponen perangkat mobile ikut melonjak. Dampaknya, konsumen diperkirakan menunda pembelian dan upgrade perangkat.
Laporan terbaru dari International Data Corporation (IDC) memproyeksikan pengiriman smartphone global hanya mencapai sekitar 1,1 miliar unit pada 2026. Angka ini turun signifikan dari 1,26 miliar unit pada 2025. Proyeksi tersebut juga lebih pesimistis dibandingkan estimasi sebelumnya pada November 2025, yang memperkirakan penurunan jauh lebih moderat.
Vice President Worldwide Client Devices IDC, Francisco Jeronimo, menyebut krisis memori sebagai “guncangan seperti tsunami” yang berasal dari rantai pasok DRAM dan NAND. Menurutnya, tekanan harga tidak hanya bersifat sementara dan diperkirakan memburuk sebelum membaik. Efeknya sudah meluas ke berbagai kategori elektronik, dari smartphone hingga perangkat komputasi dan gaming.

Segmen smartphone kelas bawah diperkirakan menjadi yang paling terdampak. Margin tipis membuat vendor sulit menyerap kenaikan biaya, sehingga harga jual ke konsumen cenderung meningkat. IDC memperkirakan harga rata-rata smartphone global naik sekitar 14% menjadi 523 dolar AS pada 2026. Kondisi ini dapat membuat segmen di bawah 100 dolar menjadi tidak lagi ekonomis dalam jangka panjang.
Dari sisi regional, Timur Tengah dan Afrika diproyeksikan mengalami penurunan pengiriman terbesar, mencapai 20,6% secara tahunan. Pasar besar seperti China dan Asia Pasifik juga diprediksi turun masing-masing 10,5% dan 13,1%. Hal ini mencerminkan tingginya sensitivitas konsumen terhadap harga di wilayah berkembang.
IDC Senior Research Director Nabila Popal menilai kenaikan harga berpotensi memaksa sebagian vendor kecil keluar dari pasar. Sebaliknya, pemain besar seperti Apple dan Samsung dinilai lebih siap menghadapi tekanan biaya dan bahkan berpeluang memperluas pangsa pasar.
Krisis memori juga berdampak luas, mulai dari GPU, SSD, hingga konsol game. Perangkat seperti Nintendo Switch 2 diperkirakan mengalami kenaikan harga, sementara PlayStation generasi berikutnya disebut-sebut berpotensi ditunda hingga 2028 atau 2029. Kondisi ini menegaskan bahwa gangguan rantai pasok komponen utama dapat mengubah dinamika industri teknologi dalam jangka panjang.

