Whale shark atau hiu paus, ikan terbesar di dunia yang juga berstatus terancam punah, ternyata menghadapi ancaman yang selama ini luput dari perhatian. Ya, apalagi kalau bukan tabrakan dengan kapal besar.
Studi internasional yang melibatkan lebih dari 75 peneliti memetakan lokasi berkumpulnya hiu paus di 26 negara, lalu membandingkannya dengan data jalur pelayaran global dari Global Fishing Watch. Hasilnya cukup telak. Banyak habitat penting hiu paus justru berada tepat di jalur kapal komersial, terutama di perairan Ekuador, Meksiko, Malaysia, Filipina, Oman, Seychelles, dan Taiwan.
Masalahnya sederhana tapi fatal. Hiu paus menghabiskan hampir setengah waktunya di dekat permukaan laut untuk memakan plankton, persis di ketinggian yang sama dengan kapal-kapal raksasa melintas.

Yang membuat situasi ini lebih buruk adalah kematian hiu paus hampir tak terlihat. Berbeda dengan paus yang tubuhnya bisa mengapung di laut atau terdampar ke daratan, hiu paus tenggelam saat mereka mati. Artinya, tabrakan kemungkinan terjadi jauh lebih sering daripada yang tercatat.
Ironinya, perhatian global selama ini lebih banyak tertuju pada paus, sementara hiu paus mati diam-diam di jalur perdagangan dunia. Dengan lebih dari 100.000 kapal beroperasi di laut, dan jumlahnya terus naik, industri pelayaran pada dasarnya sedang berbagi ruang dengan spesies raksasa yang bergerak jauh lebih lambat.
Jika tidak ada perubahan jalur pelayaran atau perlindungan habitat, realitasnya cukup pahit. Logistik global mungkin berjalan lancar, tetapi hiu paus perlahan tersingkir dari lautan yang sama.

