Kondisi Xbox kian mengkhawatirkan. Laporan keuangan terbaru Microsoft menunjukkan bahwa divisi gaming kembali tertekan, dengan pendapatan perangkat keras Xbox anjlok hingga 32 persen secara tahunan.
Secara keseluruhan, pendapatan divisi Gaming Microsoft juga turun 9 persen, menandai periode sulit yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Dalam laporan keuangan kuartal kedua tahun fiskal 2026 yang berakhir pada 31 Desember 2025, Microsoft mencatat pendapatan Gaming sebesar US$5,99 miliar, turun US$623 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya penjualan konsol Xbox, disertai penurunan kecil pada segmen konten dan layanan.

Microsoft mengonfirmasi bahwa pendapatan konten dan layanan, yang mencakup langganan Game Pass, turun sekitar 5 persen. Angka ini menjadi sinyal bahwa strategi jangka panjang Microsoft yang berfokus pada layanan belum sepenuhnya mampu mengimbangi pelemahan bisnis perangkat keras.
Ironisnya, kinerja Xbox berbanding terbalik dengan performa Microsoft secara keseluruhan. Perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan 17 persen secara tahunan menjadi US$81,3 miliar, dengan laba operasional naik 21 persen. Artinya, Xbox kini menjadi salah satu titik lemah di tengah laju pertumbuhan Microsoft yang agresif di sektor lain.
CFO Microsoft, Amy Hood, mengakui bahwa performa divisi Gaming berada di bawah ekspektasi. Ia menyebut rilis konten first-party sebagai salah satu penyebab utama. Empat judul besar yakni Ninja Gaiden 4, Keeper, The Outer Worlds 2, dan Call of Duty: Black Ops 7, gagal memberikan dorongan signifikan. Bahkan, Black Ops 7 dilaporkan hanya terjual sekitar 401 ribu kopi di Steam dalam 26 hari, turun drastis 82 persen dibanding pendahulunya.
Sepanjang 2025, Xbox juga terus tertinggal jauh dari PlayStation 5 dalam penjualan global. Penutupan studio, gelombang PHK pasca-akuisisi Activision Blizzard, serta respons dingin terhadap game eksklusif semakin menggerus kepercayaan pasar. Dengan perangkat keras yang terus melemah dan layanan yang belum tumbuh agresif, masa depan Xbox sebagai platform konsol kini semakin dipertanyakan.

