Microsoft dikabarkan akan melakukan gelombang PHK besar-besaran di divisi Xbox pada bulan depan sebagai bagian dari program restrukturisasi internal yang disebut “Reset Xbox”. Berdasarkan berbagai laporan, sekitar 1.000 karyawan berpotensi terdampak, dengan pemangkasan yang menyasar divisi pemasaran, operasional bisnis, hingga kemungkinan perombakan atau penutupan sejumlah studio game.
Sinyal efisiensi sebenarnya sudah muncul beberapa minggu lalu ketika CEO Xbox, Asha Sharma, mengisyaratkan perlunya perusahaan mengambil “keputusan sulit”. Situasi tersebut kemudian diperkuat oleh laporan Bloomberg yang menyebutkan bahwa Microsoft tengah menyiapkan langkah penghematan berskala besar untuk menekan biaya operasional Xbox.
Dalam memo internal yang dikirimkan kepada karyawan, Sharma bersama Chief Content Officer Xbox, Matt Booty, mengungkapkan bahwa perusahaan telah menggelontorkan lebih dari USD 20 miliar dalam lima tahun terakhir untuk investasi konten, platform, dan subsidi perangkat keras, di luar akuisisi Activision Blizzard King.
Namun, di saat yang sama, pendapatan tahunan Xbox justru turun hampir USD 500 juta. Manajemen menilai kondisi tersebut tidak dapat terus berlanjut jika Xbox ingin tetap kompetitif di masa depan.
Selain tekanan finansial, Xbox juga menghadapi tantangan dari sisi perangkat keras. Perusahaan memperkirakan biaya komponen untuk musim liburan 2027 akan meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan dua tahun sebelumnya. Harga memori yang terus naik turut memperburuk kondisi. Situasi ini mendorong Microsoft mencari model bisnis baru dan memperluas kemitraan di sektor hardware.
Perubahan strategi tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan hadirnya konsol Xbox yang diproduksi oleh mitra OEM menggunakan prosesor AMD generasi terbaru. Microsoft juga disebut tengah mengevaluasi peluang merger dan akuisisi untuk memperkuat bisnis hardware, PC, mobile, dan layanan streaming.
Bagi manajemen Xbox, infrastruktur platform yang ada saat ini dinilai sudah tidak cukup untuk menghadapi persaingan industri game yang semakin ketat. Langkah restrukturisasi ini menjadi bagian dari upaya Microsoft untuk membangun fondasi bisnis Xbox yang lebih efisien, sekaligus mempersiapkan strategi jangka panjang di tengah meningkatnya tekanan biaya dan perubahan dinamika pasar game global.


