Berbagai penelitian menunjukkan bahwa video game bukan sekadar hiburan, melainkan dapat membantu otak memproses informasi secara lebih efisien dan beradaptasi terhadap tugas kompleks. Namun, manfaat kognitif ini sangat bergantung pada jenis game yang dimainkan serta bagaimana game tersebut menantang sistem kognitif pemain.
Aaron Seitz, profesor psikologi dan Direktur Brain Game Center di Northeastern University, menjelaskan bahwa video game melatih keterampilan kompleks dalam lingkungan simulasi dinamis. Berbeda dengan brain game konvensional yang cenderung sederhana, game arus utama memaksa pemain membuat keputusan cepat, mengelola banyak variabel, dan beradaptasi secara berkelanjutan.
Psikolog C. Shawn Green dari University of Wisconsin–Madison dan Carlos Coronel dari Trinity College Dublin menekankan bahwa struktur dan tempo permainan sangat menentukan dampak kognitif. Riset mereka menunjukkan bahwa genre real-time strategy (RTS) dan game aksi cepat memberikan manfaat paling konsisten.
Manfaat tersebut juga muncul pada pemain pemula. Non-gamer yang berlatih StarCraft II selama sekitar 30 jam dalam beberapa minggu menunjukkan perlambatan penuaan otak dibandingkan mereka yang mempelajari game kartu berbasis aturan seperti Hearthstone. Ini mengindikasikan bahwa efek positif tidak menuntut keahlian tingkat tinggi.
Sementara itu, penelitian lain mengaitkan game aksi dengan peningkatan ketajaman visual, penalaran spasial, dan kontrol perhatian. Namun para peneliti mengingatkan bahwa sebagian pengujian masih berbasis tugas visual cepat yang belum tentu sepenuhnya mencerminkan pengambilan keputusan di dunia nyata.
Para ahli sepakat bahwa kunci manfaat terletak pada variasi dan moderasi. Bermain terlalu lama tidak menjamin kesehatan otak. Sesi singkat 30–60 menit, dikombinasikan dengan aktivitas fisik, tidur cukup, dan interaksi sosial, dinilai lebih efektif. Video game dapat menjadi alat stimulasi kognitif, tetapi tetap harus menjadi bagian dari gaya hidup yang seimbang.


