Langsung ke konten utama

Asus ExpertBook PM3 PM3406CKA. Laptop Bisnis untuk Jangka Panjang

Segmen laptop bisnis selama bertahun-tahun terjebak pada satu pola: performa tinggi di tahun pertama, dan tuntutan upgrade mahal pada tahun ketiga atau keempat. Di era PC AI saat ini, masalah tersebut semakin terasa.

Alasannya, workload berbasis kecerdasan buatan saat ini membutuhkan ruang penyimpanan lebih besar, RAM lebih lega, dan perangkat yang bisa mengikuti dinamika operasional perusahaan. Sayangnya, sebagian besar laptop bisnis modern masih terjebak pada desain kaku, RAM solder, satu slot SSD, dan skalabilitas minim.

Di tengah kondisi tersebut, Asus ExpertBook PM3 PM3406CKA hadir dengan pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar laptop bisnis berlabel “AI-ready”, tetapi sebuah platform kerja yang menawarkan sesuatu yang jarang ada di kelasnya. Dua slot SSD dan dua slot SO-DIMM. 


Ini bukan gimmick marketing. Fasilitas tersebut adalah dasar dari konsep yang Asus sebut sebagai true future-proofing, atau cara memastikan laptop tetap relevan hingga 5 sampai 7 tahun ke depan. Artinya, dari sisi pendekatan desain, Asus ExpertBook PM3 diposisikan untuk mampu menjawab masalah terbesar departemen IT dan finance. Bagaimana menurunkan TCO (Total Cost of Ownership) sambil meningkatkan umur pakai perangkat kerja.

Masalah Laptop Bisnis Modern: Kuat di Awal, Mahal di Akhir
Dalam siklus pembelian laptop korporasi, pertanyaan klasik yang selalu muncul setiap tiga tahun adalah: “Kenapa kita harus ganti laptop lagi?” Jawabannya sederhana. Sebagian besar laptop bisnis dibuat tanpa mempertimbangkan skalabilitas jangka panjang. RAM disolder, hanya satu SSD, dan bahkan PC AI terbaru pun lebih menekankan performa instan ketimbang fleksibilitas di masa depan.

Pendekatan ini membuat biaya upgrade membengkak. Jika storage habis, seluruh OS harus di-cloning ke SSD baru. Jika RAM mentok, perusahaan tak punya pilihan selain mengganti unit. Dalam skala ratusan atau ribuan laptop di jaringan perusahaan nasional, downtime yang muncul menjadi kerugian besar.

Asus melihat celah ini dan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan vendor lain. Solusi Asus adalah, sediakan dual SSD dan dual SO-DIMM. Bukan sekadar fitur tambahan. Inilah alasan mengapa ExpertBook PM3 PM3406CKA terasa seperti angin segar. Asus memberikan dua slot SSD (M.2 2280 + M.2 2230) serta dua slot SO-DIMM DDR5 penuh.



Konfigurasi default menggunakan satu SSD M.2 2280 sebagai drive utama. Ketika kebutuhan meningkat, entah di tahun kedua atau ketiga, tim IT perusahaan cukup menambahkan SSD M.2 2230 tanpa perlu migrasi OS. Dalam hitungan menit, total kapasitas bisa mencapai hingga 3 TB. Tidak ada downtime, tidak ada proses kloning, dan secara signifikan menurunkan biaya teknis sekaligus beban operasional.

Untuk RAM, pendekatannya juga sama rasional. Banyak laptop tipis modern memakai RAM solder, sementara sejumlah model bisnis premium hanya menyediakan satu slot tambahan. ExpertBook PM3 berbeda. Dua slot SO-DIMM tersedia, mendukung hingga 64 GB RAM DDR5.

Perusahaan bisa memulai dari 1 keping RAM 16 GB untuk efisiensi biaya, lalu menambah modul kedua ketika workload meningkat, baik karena aplikasi AI lokal, analisis data, virtual machine, ataupun multitasking berat. Asus juga menyediakan opsi bawaan 1 keping 32GB bagi perusahaan yang ingin kapasitas besar sejak awal.

Skalabilitas seperti ini adalah inti dari konsep future-proof yang sesungguhnya.

Dukungan Software dan Keamanan Kelas Enterprise
Skalabilitas hardware hanya setengah cerita. Asus melengkapi ExpertBook PM3 dengan fondasi software kelas enterprise, mulai dari Asus ExpertMeet, layanan McAfee+ selama satu tahun dan juga Enterprise Grade BIOS dengan update terjamin hingga lima tahun. Ini sangat penting karena siklus ancaman keamanan semakin cepat.

Asus juga menyertakan fitur self recovery, yang akan mengembalikan BIOS ke kondisi aman jika terdeteksi usaha eksploitas celah keamanan atau upaya untuk pengubahan parameter BIOS yang tak dikenal. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mendapatkan perangkat yang scalable, tetapi juga terlindungi dari ancaman serius yang bisa memengaruhi operasional.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa Asus memahami kebutuhan manajer IT, CIO, dan IT decision maker yang tidak hanya mengejar performa, tetapi stabilitas jangka panjang.

Mengubah Siklus Hidup Laptop dari 3 Tahun Menjadi 7 Tahun
Pada praktiknya, desain Asus ExpertBook PM3 menawarkan model siklus hidup seperti ini:

  • Tahun 1–3: digunakan sebagai PC AI modern dalam konfigurasi standar.
  • Tahun 4–7: upgrade SSD dan RAM dilakukan dengan cepat tanpa downtime, tanpa biaya tinggi, dan tanpa mengganti unit laptop.

Hasilnya, TCO turun signifikan. Alih-alih mengganti laptop setiap tiga tahun, perusahaan bisa memperpanjang umur pakai hingga dua kali lipat. Apalagi dari sisi durability, Asus ExpertBook PM3 PM3406 juga menawarkan keyboard anti-spill, rangka yang kuat menahan beban hingga 85 kilogram, engsel yang kokoh, sampai port input-output yang diperkuat dengan baut tambahan.

Dengan demikian, produktivitas karyawan tetap stabil karena unit tidak harus diganti, dan ROI meningkat sepanjang masa pakai perangkat. Hal ini jarang terjadi di kelas laptop bisnis modern yang cenderung mengunci hardware untuk menekan biaya produksi.

Laptop Bisnis Paling Rasional untuk Investasi Jangka Panjang
Asus ExpertBook PM3 PM3406CKA bukan sekadar laptop bisnis berlabel AI. Ia adalah perangkat yang dirancang dengan memahami realitas lapangan: RAM sering kurang, storage cepat habis, proses upgrade memakan waktu, dan downtime mahal. Dengan kombinasi dual SSD, dual SO-DIMM, BIOS enterprise, dan desain yang sangat IT-friendly, laptop ini memberikan jawaban konkret untuk masalah-masalah tersebut.

Jika Anda manajer IT, pemilik bisnis, atau bagian purchasing yang mengutamakan efisiensi dan umur pakai panjang, ExpertBook PM3 adalah pilihan yang paling masuk akal di kelasnya. Ini bukan laptop AI generik. Ini adalah investasi jangka panjang yang memahami cara kerja organisasi modern.

Dengan kata lain, ExpertBook PM3 bukan hanya future-proof. Ia adalah laptop yang siap menghadapi masa depan—secara teknis, operasional, dan finansial.



Postingan Populer

Review Lenovo ThinkPad E14 Gen 7. Laptop Bisnis di Era Efisiensi dan Mobilitas

Industri laptop bisnis tengah mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya performa dan skalabilitas menjadi tolok ukur utama, kini efisiensi daya, mobilitas, keamanan, dan keberlanjutan justru menjadi faktor penentu. Perusahaan semakin menuntut perangkat yang ringkas, tahan lama, mudah dikelola, namun tetap cukup bertenaga untuk produktivitas. Tren kerja hybrid juga turut mengubah prioritas desain laptop bisnis. Bobot ringan, daya tahan baterai memadai, konektivitas lengkap, serta fitur keamanan berlapis kini menjadi standar baru. Produsen pun berlomba menghadirkan perangkat yang tidak sekadar kuat di atas kertas, tetapi relevan dengan kebutuhan kerja modern. Lenovo melalui lini ThinkPad E-Series mencoba menjawab tantangan tersebut. Buktinya, ThinkPad E14 Gen 7   hadir sebagai opsi entry-level hingga menengah untuk profesional dan pelaku bisnis yang membutuhkan laptop tangguh, fleksibel, dan ekonomis tanpa meninggalkan DNA ThinkPad yang legendaris. Desain Lenovo ThinkPad E14 G...

Lewat Arrow Lake Refresh, Intel Coba Kembali Dominasi Industri PC

Intel tampaknya menyiapkan langkah lanjutan untuk menghidupkan kembali daya saingnya di pasar prosesor, meski jalurnya tidak sepenuhnya agresif. Core Ultra 200K Plus dan 200HX Plus, yang dikenal dengan nama kode Arrow Lake Refresh, dikabarkan akan meluncur pada Maret atau April 2026. Informasi ini berasal dari pembocor perangkat keras asal Tiongkok, Golden Pig Upgrade Pack, dan mengindikasikan bahwa Intel memilih bermain aman sambil menunggu momentum yang lebih besar. Menurut laporan Tom’s Hardware, Intel sebelumnya memang sudah mengonfirmasi bahwa lini Core Ultra 200S Arrow Lake akan mendapatkan penyegaran. Namun, perusahaan hanya menyebut “2026” tanpa kepastian waktu, memicu spekulasi bahwa pengumuman akan dilakukan di CES 2026. Kenyataannya, Intel justru lebih memusatkan perhatian pada Panther Lake, yang kini diposisikan sebagai bintang utama. Panther Lake dijadwalkan hadir di pasar pada 27 Januari 2026, dengan embargo ulasan untuk varian andalan Core Ultra X9 388H dikabarkan akan b...

Dukung Industri E-sports, ShopeePay Gandeng RRQ

Rex Regum Qeon (RRQ) mengumumkan kemitraan strategis dengan ShopeePay sebagai sponsor untuk tahun 2026. Kolaborasi ini menegaskan semakin eratnya hubungan antara industri esports dan layanan keuangan digital, sekaligus menunjukkan bagaimana dompet elektronik kini menjadi bagian penting dari gaya hidup generasi muda yang lekat dengan gaming, hiburan, dan transaksi digital. Bagi ShopeePay, menggandeng RRQ bukan sekadar langkah branding. RRQ memiliki basis penggemar besar dan loyal, dikenal sebagai RRQ Kingdom, yang mayoritas berasal dari kalangan anak muda dan digital native.  Segmen ini dinilai sejalan dengan visi ShopeePay untuk memperluas adopsi layanan keuangan digital melalui pengalaman yang relevan, praktis, dan bernilai tambah. ShopeePay menegaskan kolaborasi ini akan menghadirkan kemudahan transaksi sekaligus berbagai keuntungan eksklusif bagi komunitas RRQ. Di sisi RRQ, kehadiran ShopeePay dipandang sebagai mitra yang memahami kultur komunitas esports. RRQ menekank...

Kabar Buruk. Pengguna Beralih ke Harddisk, Harga Jadi Ikut Naik

Permintaan terhadap hard disk drive (HDD) kembali melonjak tajam dan berdampak langsung pada harga pasar. Berdasarkan pelacakan harga ComputerBase, rata-rata harga HDD telah naik sekitar 46 persen sejak pertengahan September, meskipun tidak ada gangguan besar pada rantai pasok global.  Kenaikan ini terjadi secara bertahap selama empat bulan terakhir, dengan rentang peningkatan harga antara 23 persen hingga 66 persen, tergantung model dan kapasitas. Model dengan kenaikan terendah tercatat pada Seagate IronWolf Pro NAS HDD + Rescue 16 TB, yang naik sekitar 23 persen. Sebaliknya, lonjakan harga tertinggi terjadi pada Toshiba Cloud Scale Capacity MG10F AFA 22 TB yang melonjak hingga 66 persen. ComputerBase memantau 12 model HDD paling populer berdasarkan daftar harga euro dan menemukan bahwa secara rata-rata, HDD kini hampir 50 persen lebih mahal dibandingkan empat bulan lalu. Laporan DigiTimes pada Desember 2025 turut memperkuat tren ini. Disebutkan bahwa negosiasi kontrak kuartal kee...

Gigabyte Incar Pasar Handheld Gaming PC

Gigabyte mulai memberi sinyal ketertarikan untuk masuk ke pasar handheld gaming yang semakin padat. Dalam wawancara dengan PCWorld di ajang CES 2026, CEO Gigabyte Eddie Lin mengungkapkan bahwa perusahaannya sedang mempertimbangkan pengembangan perangkat handheld gaming, namun dengan satu syarat utama: produk tersebut harus memiliki keunikan yang benar-benar membedakannya dari para pesaing. Ketertarikan ini sejatinya tidak mengejutkan. Pasar handheld gaming dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan pesat, didorong oleh kesuksesan Steam Deck dan diikuti oleh berbagai pemain besar seperti Asus, Lenovo, MSI, hingga sejumlah merek asal Tiongkok. Di tengah kondisi tersebut, Gigabyte tentu melihat peluang, sekaligus tantangan, untuk ikut ambil bagian. Menurut Eddie Lin, dari sisi teknis, membuat handheld gaming bukanlah perkara sulit. Ia menegaskan bahwa banyak produsen di Tiongkok sudah mampu memproduksi perangkat sejenis dengan relatif cepat. Tantangan sesungguhnya justru terletak...